10/04/2008

Abraham Lincoln

Abraham Lincoln
(12 Februari 1809 – 15 April 1865)

"Karakter seperti sebuah pohon, dan reputasi seperti bayangannya. Kita sering memikirkan bayangannya, padahal yang utama adalah pohonnya." - Abraham Lincoln

Pengantar: Riwayat Singkat
(1)
Adalah Presiden Amerika Serikat yang ke-16, menjabat sejak 4 Maret 1861, menjadi presiden di saat Amerika menghadapi saat-saat genting perang saudara.
Presiden Lincoln dikenal sebagai pencetus Proklamasi Pembebasan yang menyataan bahwa semua budak belian di Amerika, baik selatan maupun utara, akan bebas mulai dari 1 Januari 1863. Abraham Lincoln juga dikenal sebagai Abe Lincoln dan menggunakan nama julukan (nicknamed) Honest Abe, Rail Splitter, dan Great Emancipator. Sebelum menjabat menjadi Presiden, ia juga menjadi wakil presiden pertama dari Partai Republik.
Masa kecilnya Abraham Lincoln dilahirkan di sebuah gubuk kecil di Kentucky pada 12 Februari 1809. Orang tuanya miskin dan tidak berpendidikan. Lincoln sendiri hanya mengecap pendidikan selama kira-kira setahun, tetapi dalam waktu singkat itu ia dapat membaca, menulis dan berhitung. Ketika ia beranjak dewasa ia berusaha keras untuk menambah pengetahuannya. Ia menggunakan sebaik-baiknya semua buku yang dapat dibacanya, akhirnya ia berhasil menjadi seorang ahli hukum pada usia 28 tahun.
Ketika masih muda, Abraham Lincoln bekerja dalam berbagai bidang. Ia pernah bekerja sebagai pembelah kayu pagar, menjadi tentara, menjadi kelasi di kapal-kapal sungai, juru tulis, mengurus kedai, kepala kantor pos, dan menjadi pengacara. Ia giat membela hak-hak para budak Afrika. Orang-orang yang tidak setuju dengan rencananya untuk memberikan kebebasan kepada budak-budak, membentuk Persatuan Selatan dan sebuah pasukan untuk berperang melawan pasukan Utara Lincoln pada Perang Utara-Selatan. Pasukannya memenangkan peperangan itu.
Langkah pertamanya memasuki lapangan politik terjadi pada 1832 pada saat ia berusia 23 tahun. Ketika itu ia berusaha untuk dipilih menjadi anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah negara bagian Illinois, di bagian barat-tengah Amerika. Namun ia kalah pada saat pemilihan, dua tahun kemudan ia berusaha kembali dan menang. Setelah itu ia kembali dipilih selama tiga kali berturut-turut setelahnya.
Pada tahun 1847, saat ia berusia 38 tahun, ia terpilih menjadi anggota Dewan Perwakilan Rakyat Amerika. Abraham Lincoln menjadi terkenal di seluruh negara sebagai orang politik, akibat perdebatannya dengan seorang lawan Stephen A. Douglas dalam kampanye pemilihan Senator Amerika pada tahun 1858. Sekalipun ia kalah dalam pemilihan senator, partai Republik memilihnya menjadi calon presiden dalam pemilihan pada tahun 1860. Saat itu Amerika Serikat telah hampir terpecah belah akibat masalah perbudakan.
Pada 6 November 1860, Lincoln dilantik menjadi Presiden Amerika Serikat yang ke-16 dan sebulan kemudian, perang saudara Amerika antara negara-negara bagian di Utara dan negara-negara bagian di Selatan pecah. Walaupun ia membenci perang, Presiden Lincoln menerimanya sebagai satu-satunya jalan untuk menyelamatkan persatuan negara. Pada pertengahan perang saudara, Presiden Abraham Lincoln mengeluarkan Proklamasi Pembebasan yang mengubah hajat hidup orang banyak di Amerika. Proklamasi itu menyatakan bahwa semua budak belian di negara-negara bagian ataupun daerah-daerah negara-negara bagian yang melawan Amerika Serikat akan bebas mulai 1 Januari 1863. Proklamasi itu mencetuskan semangat semua orang yang memperjuangkan kebebasan, dan menjad pendorong ke arah penghapusan perbudakan di seluruh Amerika Serikat.
Presiden Abraham Lincoln dipilih kembali pada 1864, ditengah-tengah kemenangan-kemenangan militer Amerika Serikat yang menuju berakhirnya Perang Saudara. Dalam merencanakan perdamaian Presiden Abraham Lincoln bersifat fleksibel dan bermurah hati. Ia mengajak orang-orang selatan yang memberontak supaya meletakkan senjata dan kembali ke pangkuan Amerika Serikat. Semangat yang menjadi pedomannya jelas serupa dengan semangat pidato pelantikannya yang kedua. Kalimat ini kini terukir di salah satu dinding tugu peringatan Lincoln (Lincoln Memorial) di Washington DC yang berbunyi :
“Dengan keteguhan hati dan kebenaran yang sesuai dengan titah Allah, marilah kita berusaha untuk menyelesaikan tugas kita sekarang, yaitu menyembuhkan luka-luka bangsa”.
Presiden Lincoln tertembak di teater Ford, Washington, AS, pada 14 April 1865 dan meninggal keesokan harinya pada tanggal 15 April 1865 pada usia 56 tahun. Pembunuhnya, John Wilkes Booth adalah seorang pemain sandiwara yang memiliki gangguan jiwa, ia juga salah seorang pendukung Konfederasi yang menentang diserahkannya tentara Konfederasi kepada pemerintah setelah berakhirnya perang saudara. Presiden Lincoln dimakamkan di Springfield, AS dan dikenang oleh Amerika dan dunia sebagai pejuang demokrasi karena jasa-jasanya.
(Diambil dari Wikipedia Indonesia).

Pengantar
Terdapat beberapa definisi mengenai kepemimpinan, diantaranya pemikiran menurut Fred E. Fidler, sebagai berikut[2]:
Kepemimpinan adalah aktivitas para pemegang kekuasaan dan pembuat keputusan.
Kepemimpinan adalah langkah pertama yang hasilnya berupa pola interaksi kelompok yang konsisten dan bertujuan menyelesaikan problem-problem yang saling berkaitan.
Kepemimpinan adalah suatu proses mempengaruhi aktivitas kelompok dalam rangka perumusan tujuan.
Dari batasan diatas, para ahli manajemen berpendapat bahwa kepemimpinan adalah suatu konsep manajemen didalam organisasi memiliki kedudukan yang sangat strategis dan sangat diperlukan dalam kehidupan kelompok. Kepemimpinan mutlak diperlukan dimana terjadi interaksi kerjasama antara dua orang atau lebih dalam organisasi. Kepemimpinan sebagai konsep manajemen dikemukakan oleh Ralph M. Stogdill, kepemimpinan adalah [3]:
· Suatu seni untuk menciptakan kesesuain paham.
Setiap pemimpin harus mampu membuat bawahan mencapai hasil yang ditetapkan.
· Suatu bentuk persuasi dan inspirasi.
Kepemimpinan harus mampu mempengaruhi orang lain bukan melalui paksaan tetapi dengan himbauan/persuasi.
· Suatu kepribadian yang memiliki pengaruh.
Watak yang dimiliki pemimpin harus menunjukan keunggulan sehingga menyebabkan memiliki pengaruh.
· Tindakan dan perilaku.
Serangkaian perilaku yang mengarahkan kepada kegiatan bersama. Kegiatan tersebut dapat memperhatikan kebutuhan bawahan, kerjasama dll.
Titik sentral proses kegiatan suatu kelompok.
Pemimipn dilahirkan diharapkan merupakan lahirnya gagasan baru, yang mendorong lahirnya suatu perubahan.
· Hubungan kekuasaan/kekuatan.
Kepemimpinan merupakan suatu bentuk hubungan sekelompok orang, mencerminkan sekelompok orang berperilaku akibat kekuasaan pemimpin.
· Sarana pencapaian tujuan.
Pemimpin memiliki bentuk tujuan (visi) sehingga memiliki kekuatan untuk mendorong, memotivasi organisasi kearah tujuan tersebut.
· Suatu hasil interaksi.
Kepemimpinan sebagai proses sosial, hubungan antar pribadi dimana berbagai pihak melakukan penyesuaian.
· Peranan yang dipolakan.

Dalam suatu organisasi anggota memiliki peranan berbeda, dan masing-masing memiliki sumabngan yang berbeda. Pemimpin memiliki peran yang paling besar dalam suatu organisasi.
Berdasarkan jabaran diatas maka kepemimpinan akan terjadi apabila dalam situasi tertentu seorang mempengaruhi perilaku orang lainbaik secara perorangan ataupun kelompok.
Ketika saya membaca sebuah artikel diharian Kompas Minggu 25 Mei 2008, mengenai cukilan buku oleh Julius Poer dengan judul asli: “American Generalship, Character is Everthing: The Art of Command”, yang ditulis oleh Dr. Edgar F. Puryear Jr. Didalam buku itu dikaji mengenai kepemimpinan dari beberapa Jendral AS yang termasyur yaitu diantaranya: George Marshall, Douglass McArthur, Dwight Eisenhower dan George McClellan.
Jika melihat kisah seorang George McClellan, ia merupakan lulusan terbaik Akademi Militer AS tahun 1846, dan ditunjuk menjadi dosen di West Point. Ia ditugaskan selama enam bulan meninjau daratan Eropa untuk mengkaji sistem pertahanan setempat. Kembali ke negaranya, dia memborong lebih dari 200 buku ilmu perang dan pengamatannya selama tugas dia tuangkan dalam sebuah laporan panjang, kritis, dan sangat mengagumkan. Dalam waktu singkat, McClellan berhasil memesona pucuk pimpinan militer sekaligus meraih predikat pakar ilmu perang serta dicalonkan untuk menjabat posisi panglima.
Ketika Amerika Serikat dilanda perang saudara, semua orang menyambut gembira ketika Presiden Abraham Lincoln mengangkat McClellan menjadi mayor jenderal sambil menetapkannya sebagai panglima pertahanan ibu kota.
Prestasinya dilapangan sangat mengecewakan, dimana pasukan Konfederasi berhasil menjebol pertahanannya dan malah sempat membakar Gedung Putih yang saat itu sedang dibangun. Kegagalan McClellan memicu pertanyaan, bagaimana mungkin sosok yang begitu memesona publik, dengan penampilan meyakinkan berikut pemikiran cemerlang, harus kalah?
Sebagai pengamat militer, dia sangat mengagumkan, tetapi selaku komandan lapangan, ternyata gagal,” begitu tulis Dr Edgar Puryear dalam buku American Generalship dengan sub-judul ”Character is Everything: The Art of Command”.
Mengapa prestasi lapangan McClellan mengecewakan? ”Sebab tidak punya karakter,” ujar Edgar Puryear, lain halnya denga ketiga Jendral yang sukses dalam menentukan kemenangan Amerika Serikat terhadap Jepang pada Perang Dunia II. Ia menyimpulkan untuk melahirkan seorang panglima diperlukan keberanian mengambil keputusan dan memiliki karakter.
Kejujuran Dan Integritas Adalah Bentuk Pemimpin Terbaik
Sosok Abraham Lincoln dikenal sebagai seorang yang memiliki kesederhanaan dan kejujuran. Berasal dari keluarga miskin yang sangat sederhana, dan memulai karir politiknya dengan berbagai kekalahan dalam berbagai pemilihan, yang akhirnya berhasil dengan cemerlang. Ia sebagai Presiden memberikan pernyataan bahwa pemerintah bertanggung jawab melakukan sesuatu bagi rakyat, dimana rakyat tidak bisa melakukannya. Pemikirannya banyak berisikan Tema yang luar biasa, yang banyak ditemukan dalam berbagai surat-suratnya, tulisannya, ceramahnya maupun pidatonya. Tema-tema yang ada banyak memberikan cerminan pemikiran dan sikapnya, yang sangat menjunjung tinggi nilai demokrasi, hak asasi manusia, kejujuran, kesederhanaan, persatuan, kesungguhan, dll.
Terdapat beberapa Tema yang diungkapkan Abraham Lincoln melalui berbagai surat, ceramah, pidato ataupun makalah, dan penulis mengutibnya sebagian kecil untuk mengambil nilai-nilai keteladanan dalam kepemimpinannya[4].
Dalam suatu catatan dalam ceramah hukum tanggal 1 Juli 1850, ia memberikan pernyataan “Bertekadlah Untuk Jujur”. Tema ini disampaikan dalam ceramah mengenai proses peradilan. Ia memberikan beberapa pernyataan kepada pengacara-pengacara yang intinya adalah himbauan untuk berlaku jujur dalam setiap proses peradilan.
“……….Para pemuda yang memilih bidang hukum sebagai panggilan, bertekadlah untuk jujur dalam keadaan apapun. Apabila menurut anda tidak bisa menjadi pengacara jujur, pilihlah pekerjaan lain…”
Terdapat suatu tema yang sangat memberikan contoh pemikiran religius, misalnya surat Abraham Lincoln kepada Williamson Durley, 3 Oktober 1845. Pernyataan “Dari Buahnya Pohon Akan Dikenali”, mengenai perlakuan terhadap perbudakan di Amerika saat itu. Ia mengirimkan surat kepada sahabatnya untuk tetap mendukung perbuatan baik kepada sesama dengan memilih Henry Clay (salah satu calon presiden penentang perbudakan), untuk menghasilkan sesuatu yang baik. Topik ini adalah ungkapan terhadap ketidaksetujuannya terhadap sistim perbudakan yang ada Di Amerika pada saat itu. Ia berpendapat bahwa kebebasan manusia itu adalah suatu perkara mendasar dan harus dinyatakan melalui perbuatan nyata.
“………..dari buahnya pohon akan dikenali. Pohon yang jahat tidak bisa menghasilkan buah yang baik. Kalau dengan memili Tn Clay buahnya adalah mencegah berlanjutnya perbudakan, apakah tindakan memilih ini buruk?”
· Surat yang ditujukan kepada Mary Speed tanggal 27 September 1841. Surat ini berisikan ketika ia menggambarkan suatu situasi perbudakan dan penindasan yang ada, perasaan yang riang tetap diungkapkan oleh para budak tersebut, hal ini disebutnya sebagai suatu “Kekuatan Tuhan” yang diberikan kepada para budak tersebut. Ia menentang segala bentuk perbudakan dan mempelopori gerakan pembebasan budak pada zamannya. “……….Tuhan menahan angin untuk domba-domba yang baru digunduli, dia membuat keadaan manusia yang paling buruk menjadi bisa tertahankan, sementara membiarkan yang paling baik menjadi tidak lebih baik dari sekedar tertahankan.”
· Cerita yang diberikan kepada Noah Brooks untuk ditulis disurat kabar 6 Desember 1864. Mengenai dua orang wanita yang datang kepadanya, meminta pembebasan suaminya yang menjadi tahanan perang. Setiap wanita selalu menekankan bahwa suaminya adalah orang saleh. Jawab Lincoln: “……………Anda berkata bahwa suami anda orang saleh, katakan padanya: saya bukan penilai agama, namun jenis agama apa yang membawa orang memberontak dan berperang adalah bukan jenis agama yang membawa ke surga.”
Setiap kali bersurat atau berpidato Lincoln selalu mengungkapkan bahwa Tuhan mencintai rakyat, karena itulah diciptakanNya manusia untuk bertambah banyak jumlahnya. Lincoln tidak pernah menyetujui sekecil apapun ketidak jujuran untuk berhubungan dengan pihak lain. “ Berdiri dengan siapapun adalah berdiri dalam kebenaran.” Dikatakannya dalam suatu pidatonya.
Lincoln selalu menjadikan kedekatannya dengan masyarakat untuk mendapatkan informasi yang seutuhnya, dan tetap terus menjaga hubungan kedekatan tersebut. Pintunya terbuka bagi siapapun yang datang untuk berpengharapan ataupun berbicara kepadanya. Karena kedekatan rakyat untuk dapat berhubungan dengan pemimpinnya memberikan rasa kepercayaan yang utuh, demikian pendapatnya. Ia pun akan berusaha menyempatkan waktu dari jadwal yang sangat padat, untuk mau mendengar dari apa yang rakyatnya ingin katakan. Pemimpin harus mengungkapkan kebenaran kepada rakyatnya walaupun itu adalah suatu berita buruk, dan harus mendukung penuh akan keadaan tersebut.
Nilai Keteladanan Kepemimpinan “Berkarakter dan Berintegritas”
Nilai-nilai kejujuran adalah unsur utama pembentuk pemimpin “Berkarakter dan Berintegritas”. Integritas adalah melakukan sesuatu sesuai dengan apa yang kita katakan. Integritas membuat kita dapat dipercaya, Integritas adalah penepatan janji-janji. Satu hal yang membuat sebagian besar orang enggan mengikuti kita adalah bila mereka tak sepenuhnya merasa yakin bahwa kita akan membawa menuju ke tujuan yang dijanjikan.

Nilai keteladanan dari Abraham Lincoln memberikan beberapa prinsip utama yang dapat kita diambil. Yaitu:
Berdiri dalam suatu sisi kebenaran adalah tuntutan utama dari seorang pemimpin. Berani menegakkan kebenaran walau apapun resikonya adalah menjadikan sosok pemimpin yang disegani dan dihormati.
Janganlah menambahkan/merubah suatu hal apapun tanpa kita mengetahui secara pasti bahwa itu adalah suatu kebenaran.
Kejujuran pemimpin adalah suatu unsur utama dalam menumbuhkan kepercayaan dari para pengikut lainnya, karena jujur dalam perkataan dan tindakan adalah kekuatan moral yang tidak tertandingi untuk dapat berpikir dan bertindak bijaksana.
Kewibawaan seorang pemimpin perlu ditekankan,perlu didukung sifat dan karakter individu sipemimpin untuk mencerminkan keteladanan bagi para pengikutnya.
Seorang pemimpin harus memiliki rasa tanggung jawab yang besar terhadap situasi yang ada dipengikutnya, perduli dan selalu menjaga hubungan kedekatan untuk berkomunikasi sebaik mungkin.
Pemimpin mampu memberikan “Visi” bagi organisasinya, dan memimpin dengan kesungguhan dan komitmen yang kuat untuk membawa kearah “Visi” tersebut. Sudah tentu tujuan dari visi tersebut menyangkut perubahan yang memberikan situasi yang lebih baik.
Seorang pemimpin harus mampu membaca situasi yang ada dan memberikan suatu keputusan yang cepat, tepat dan tegas untuk menindaklanjuti keadaan tersebut.
Kepemimpinan Abraham Lincoln patut menjadi keteladanan dari semua orang yang ingin menjadi seorang pemimpin “berintegritas”. Begitu banyak studi lanjut dilakukan untuk mengulas dan mempelajari model kepemimpinannya, hingga hari ini pun sosok Abrahan Lincoln tetap dikenang sebagai salah satu pemimpin dunia yang terbaik.
Mencapai kesuksesan bagi sebuah organisasi bahkan negara, tidaklah semudah yang di bayangkan. Membutuhkan proses yang panjang untuk bisa sampai pada fase tersebut. Diantara terdapat begitu banyak faktor penentu kesuksesan, keadaan itu salah satu diantaranya sangat ditentukan dari kualitas pemimpinnya.
Sebenarnya setiap orang mempunyai kemampuan untuk menjadi seorang pemimpin, meski kemampuan dari masing-masing orang berbeda. Setiap orang juga memiliki kesempatan yang besar untuk menjadi pemimpin. Semuanya kembali lagi pada diri orang tersebut dalam mengeksplorasi potensi dari dirinya secara optimal. Untuk mendapatkan nilai-nilai kepemimpinan dalam diri seseorang diperlukan adanya kombinasi antara bakat dan kompetensi yang bisa dikembangkan dengan seimbang. Pemimpin harus mampu memimpin dirinya sendiri baru bisa memimpin orang lain. Kepemimpinan itu bisa dibentuk sesuai dengan kompetensinya. Memang ada sebagian orang yang born to lead , tetapi buat mereka yang bukan termasuk born to lead, kepemimpinannya juga masih bisa diasah, di kembangkan, dan ditingkatkan lagi sehingga memunculkan sikap ketegasan dalam diri. Karena hal itu merupakan cerminan karakter pemimpin yang sekaligus menjadi panutan bagi bawahan atau anggota timnya.
Disamping itu kepercayaan terhadap orang lain juga sangat dibutuhkan bagi pemimpin, karena apabila seorang pemimpin tidak mampu mempercayai bawahannya, maka akan menyulitkan buat si pemimpin dalam hal mendelegasikan tugasnya. “Jangan harap bawahan bisa percaya pada pimpinan, jika pimpinan tidak mempercayainya”.
Yang tak kalah pentingnya untuk diperhatikan bagi seorang pemimpin adalah dianjurkan untuk lebih instingtif , karena di kehidupan nyata terkadang ada orang yang pandai memanipulasi keadaan, mampu menunjukkan sifat-sifat positif, bahkan melampaui kapasitas dirinya padahal pada kenyataannnya tidak seperti itu. Jadi seorang pemimpin harus bisa melihat itu, semakin lama dia memimpin maka insting nya semakin terasah, dan mencapai tingkat kematangan (emotional quation). Tingkat kematangan datangnya lain pada tiap-tiap orang, tergantung pada usia, pengalaman, dan kesempatan.
Akhirnya wujud seorang pemimpin tidak hanya dilahirkan begitu saja, namun harus dibangun dengan tujuan pengabdian dan mempunyai karakter yang kuat untuk memimpin organisasi menuju suatu “Visi” bersama.

Daftar Bacaan
Cuomo, M Mario and Holzer, Harold. “Lincoln On Democracy”. The State of New York/Lincoln On Democracy Project. 1990.
Phillips, T Donald. “Lincoln On Leadership”. Warner Books, Inc New York. 1993.
Wikipedia Indonesia: Abraham Lincoln.
Harian Kompas, Minggu 25 Mei 2008.
5. Fiedler. Fred., “ Leadership and Effective Management”. Scott, Foresman & Company. Illionis. 1974.
6. Stogdill, Ralph M. “Handbook of Leadership”. Collier Macmillan Publisher. London. 1974. P: 7-17.

[1] Diambil dari Wikipedia Indonesia
[2] Fiedler. Fred., “ Leadership and Effective Management”. Scott, Foresman & Company. Illionis. 1974
[3] Stogdill, Ralph M. “Handbook of Leadership”. Collier Macmillan Publisher. London. 1974. P: 7-17.
[4] Cuomo, M Mario and Holzer, Harold. “Lincoln On Democracy”. The State of New York/Lincoln On Democracy Project. 1990.

Knowledge Management

Knowledge Introduction
Enterprises are realising how important it is to "know what they know" and be able to make maximum use of the knowledge. This knowledge resides in many different places such as: databases, knowledge bases, filing cabinets and peoples' heads and are distributed right across the enterprise. All too often one part of an enterprise repeats work of another part simply because it is impossible to keep track of, and make use of, knowledge in other parts. Enterprises need to know:
· What their knowledge assets are.
· How to manage and make use of these assets to get maximum return.
Most traditional company policies and controls focus on the tangible assets of the company and leave unmanaged their important knowledge assets. Success in an increasingly competitive marketplace depends critically on the quality of knowledge which organisations apply to their key business processes. For example the supply chain depends on knowledge of diverse areas including raw materials, planning, manufacturing and distribution. Likewise product development requires knowledge of consumer requirements, new science, new technology, marketing etc.

Definition
Knowledge assets are the knowledge regarding markets, products, technologies and organisations, that a business owns or needs to own and which enable its business processes to generate profits, add value, etc. Knowledge management is not only about managing these knowledge assets but managing the processes that act upon the assets. These processes include: developing knowledge; preserving knowledge; using knowledge, and sharing knowledge. Therefore, Knowledge management involves the identification and analysis of available and required knowledge assets and knowledge asset related processes, and the subsequent planning and control of actions to develop both the assets and the processes so as to fulfil organisational objectives.

Knowledge-based Theory of the Firm
The cognitivist perspective assumes organisations to be open systems, which develop knowledge by formulating increasingly accurate “representations” of the world. The more data and information organisations can gather the closer the representation will be. Hence most cognitivist perspectives equate knowledge with information and data.
According to the connectionist epistemology the organisation still “represents” its outside world, but the process of representation of reality is different. As in cognitivist epistemology information processing is the basic activity of the system. Autopoietic epistemology provides a fundamentally different understanding of the input to a system. Input is regarded as data only. Knowledge is private, a notion which comes close to (Polanyi’s,1958) concept of “personal” knowledge.
Building on (Polanyi,1958) and (Wittgenstein,1995), (Sveiby,1994,1997) defines knowledge as a capacity-to act, (which may or may not be conscious). The emphasis of the definition is on the action element: A capacity-to-act can only be shown in action. Each individual has to re-create his or her own capacity to act and reality through experience – a view which is akin to constructivism (von Glaserfelt,1988).
Knowledge defined as a “capacity-to act” is dynamic, personal and distinctly different from data (discrete, unstructured symbols) and information (a medium for explicit communication). Since the dynamic properties of knowledge are in focus, the notion Individual Competence can be used as a fair synonym.

Strategy Formulation
The word “Strategy” is usually associated with activities and decisions concerning the long-term interaction of an organisation with its environment. While competitive-based and product-based strategy formulation generally makes markets and customers the starting point for the study the resource-based approach tends to place more emphasis on the organisation’s capabilities or core competences.
A knowledge-based strategy formulation should thus start with the primary intangible resource: the competence of people. People are seen as the only true agents in business; all tangible physical products and assets as well as the intangible relations are results of human action, and depend ultimately on people for their continued existence. People are seen to be constantly extending themselves into their world by both tangible means, such as craft, houses, gardens and cars and intangible corporate associations, ideas, and relationships. (McLuhan,1967), calls these intangible extensions “media”. Inspired by McLuhan, (Sveiby,1997) suggests that people in organisations create structures in order to express themselves. Structures are not objects. Structures should be seen as constructed in a constant process by people interacting with each other, (Weick 1977, 1983). If one looks for a structure one will not find it. What one will find are events linked together. These sequences, their pathways and their timing are the forms we tend to make into objects. Most “things” in organisations are such dynamic relationships, so verbs such as “knowing” and “organising” are better descriptions than the nouns knowledge and organisation.
People can use their competence to create value in two directions: by transferring and converting knowledge externally or internally to the organisation they belong to. When the managers of a manufacturer direct the efforts of their employees internally, they create tangible goods and intangible structures such as better processes and new designs for products. When they direct their attention outwards, they will in addition to delivery of goods and money also create intangible structures, such as customer relationships, brand awareness, reputation and new experiences for the customers.
Three Families of Intangible Resources
The External
structure can be seen as a family of intangible relationships with customers and suppliers, which form the basis for the reputation (image) of the firm. Some of these relationships can be converted into legal property such as trademarks and brand names. The value of such intangible resources is primarily influenced by how well the company solves its customers´ problems, which involves an element of uncertainty. Reputations and relationships can be good or bad, and can change over time. They are partly independent of individuals.
When people direct their actions internally they create an Internal Structure. The family of Internal Structure
can be seen to hold patents, concepts, models, templates, computer systems and other administrative more or less explicit processes. These are created by the employees and are generally “owned” by the organisation. However, the organisation can legally own only a small part of the Internal Structure. The informal powerplay, the internal networks, the “culture” or the “spirit” can also be regarded as belonging to the internal structure. It is useful to include also the competence of individuals in the Internal structure family, such as support staff, accounting, IT, HR and management in the Internal Structure family, since it is not possible to separate the internal structure from it’s creators. Internal structure is thus partly dependent, partly independent of individuals. Even if the most valuable individuals leave a company that depends heavily on them, such as a consultancy firm, at least part of both the internal and the external structures (the brand name) will probably remain intact and can serve as a platform for a new start, (Sveiby & Lloyd, 1987).
The Individual Competence family consists of the competence of the professional/technical staff, the experts, the R&D people, the factory workers, sales and marketing – in short all those that have a direct contact with customers and whose work are directly influencing the customers view of the organisation.
The distinction between professional/technical staff and support/managerial staff is made because their different roles determine both how they relate to each other and how they relate to the external world. Such classification so it is useful for strategy formulation and action planning. The divide between professional experts and administrative staff commonly found in knowledge-intensive firms (Sveiby 1987, 1992, 1997) is for instance explained by the theory as a lack of knowledge sharing between the two.
Knowledge Transfers/conversions to Create Value
To appreciate why a knowledge-based theory of the firm can be valuable for strategy formulation let us consider some of the features that differentiate knowledge transfers from tangible goods transfers. In contrast to tangible goods, which tend to depreciate in value when they are used, knowledge grows when used and depreciates when not used. Building up competence in a language or a sport requires huge investments in training and managerial competence takes a long time on-the-job to learn. If one stops speaking the language it gradually dissipates. The manufacturing and transportation of physical goods from suppliers, via a factory to a buyer gave us the concept of the Value Chain. If we see the organisation as creating value from transfers and conversions of knowledge together with its customers the Value Chain collapses and the relationship should better be seen as a Value Network (Allee, 2000).

The Firm from a Knowledge-based Perspective

In contrast to the Value Chain the intangible value in a Value Network grows each time a transfer takes place because knowledge does not physically leave the creator as a consequence of a transfer. The knowledge I learn from you adds to my knowledge, but it does not leave you. Thus, from an organisational viewpoint the knowledge has effectively doubled. Knowledge shared is knowledge doubled. From an individual’s point-of-view the perspective however, is different. Here knowledge shared may be an opportunity lost if the effect of the sharing becomes lost career opportunities, extra work and no recognition. Knowledge shared can be competitiveness lost. Fear of dismissal or competition are commonly cited reasons why individuals do not share what they know or what they create. While the above primarily is concerned with transfer of existing (often hidden and/or underutilised knowledge), another issue is the creation of entirely new knowledge. (Nonaka & Takeuchi, 1995), argue that new knowledge is created in the conversion of explicit/tacit knowledge from one type to another.
The choice of the words “transfer” and “conversion” may suggest one-directional movements of knowledge. This is not the intention. Knowledge transfer between two individuals is a bi-directional process, which tends to improve competence of both and teamwork tends to be a co-creation of knowledge involving the whole team. Moreover, transfer of competence depends on conversion from tacit to explicit and back to tacit again in an endless spiral (Nonaka & Takeuchi, 1995). However, it helps strategy formulation and action planning to distinguish directional components of the activities, hence the choice of words.
One feature of a knowledge-based theory of the firm is that it challenges perceptions about the boundaries of an organisation. What is indeed “the organisation” if customers and suppliers are included as families of the firm as in Figure 1? When the importance is placed on how effective the value creation is in the whole system, the issue of whether an individual is a formal employee, a customer, a contractor, a supplier or a customer becomes less of an issue as long as the relationship generates value. An ex-employee can for instance be more valuable as a customer than as an employee, a fact long exploited by the professional services firms.


1. High editorial productivity.
This difference in editorial productivity was sustained for 15 years. The knowledge-based strategy initiatives were:
¨ Recruit highly educated staff.
¨ Create Collaborative climate.
¨ Build flat organisation.
¨ Invest in new editorial technology.
¨ Computerise analytical models.

2. Low Staff turnover.
Knowledge Management Roadmaps
Knowledge Asset Road Maps highlight the critical knowledge assets required by an organisation to meet market needs five to ten years in the future. They are mechanisms enabling organisations to visualise their critical knowledge assets, the relationships between these and the skills, competencies and technologies required to meet future market demands. They allow:
Individual knowledge management actions to be defined and justified in terms of their contribution to the overall aims.
Effective communication of the work and progress on the programme to the participants and observers.
Management aids for those involved in carrying out the programme and measuring its progress.
More effective communication between users, researchers, technicians, managers and directors involved in the various aspects of the programme.
Sensible decisions to be taken on the opportunities for further exploiting the results of the programme.
The identification of knowledge gaps that need to be filled.

Diambil Dari: Karl-Erik Sveiby, Article for Journal of Intellectual Capital vol 2, Nr4.2001.

Standard Kompetensi Pendidik/Guru

Kompetensi dapat diartikan sebagai pengetahuan, keterampilan, dan nilai-nilai dasar yang direfleksikan dalam kebiasaan berpikir dan bertindak. Arti lain dari kompetensi adalah spesifikasi dari pengetahuan, keterampilan, dan sikap yang dimiliki seseorang serta penerapannya di dalam pekerjaan, sesuai dengan standar kinerja yang dibutuhkan oleh lapangan. Dengan demikian, kompetensi yang dimiliki oleh setiap guru akan menunjukkan kualitas guru yang sebenarnya. Kompetensi tersebut akan terwujud dalam bentuk penguasaan pengetahuan, keterampilan maupun sikap profesional dalam menjalankan fungsi sebagai guru.
Berdasarkan pengertian tersebut, Standar Kompetensi Guru adalah suatu pernyataan tentang kriteria yang dipersyaratkan, ditetapkan dan disepakati bersama dalam bentuk penguasaan pengetahuan, keterampilan dan sikap bagi seorang tenaga kependidikan sehingga layak disebut kompeten.

Tujuan dan Manfaat Standar Kompetensi Guru
Tujuan adanya Standar Kompetensi Guru adalah sebagai jaminan dikuasainya tingkat kompetensi minimal oleh guru sehingga yang bersangkutan dapat melakukan tugasnya secara profesional, dapat dibina secara efektif dan efisien serta dapat melayani pihak yang berkepentingan terhadap proses pembelajaran, dengan sebaik-baiknya sesuai bidang tugasnya. Adapun manfaat disusunnya Standar Kompetensi Guru ini adalah sebagai acuan pelaksanaan uji kompetensi, penyelenggaraan diklat, dan pembinaan, maupun acuan bagi pihak yang berkepentingan terhadap kompetensi guru untuk melakukan evaluasi, pengembangan bahan ajar dan sebagainya bagi tenaga kependidikan.

Standar Kompetensi Guru meliputi tiga komponen yaitu :
1. Komponen Kompetensi Pengelolaan Pembelajaran dan Wawasan Kependidikan;
2. Komponen Kompetensi Akademik/Vokasional sesuai materi pembelajaran;
3. Pengembangan Profesi.

Masing-masing komponen kompetensi mencakup seperangkat kompetensi. Selain ketiga komponen kompetensi tersebut, guru sebagai pribadi yang utuh harus juga memiliki sikap dan kepribadian yang positip dimana sikap dan kepribadian tersebut senantiasa melingkupi dan melekat pada setiap komponen kompetensi yang menunjang profesi guru.

Rumusan Standar Kompetensi Guru
Telah dinyatakan bahwa Standar Kompetensi Guru meliputi 3 (tiga) komponen kompetensi dan masing-masing komponen kompetensi terdiri atas beberapa unit kompetensi. Secara keseluruhan Standar Kompetensi Guru adalah
A. Sub Komponen Kompetensi Pengelolaan Pembelajaran :
1. Menyusun rencana pembelajaran
2. Melaksanakan pembelajaran
3. Menilai prestasi belajar peserta didik.
4. Melaksanakan tindak lanjut hasil penilaian prestasi belajar peserta didik.

B. Sub Komponen Kompetensi Wawasan Kependidikan :
1. Memahami landasan kependidikan
2. Memahami kebijakan pendidikan
3. Memahami tingkat perkembangan siswa
4. Memahami pendekatan pembelajaran yang sesuai materi pembelajarannya
5. Menerapkan kerja sama dalam pekerjaan
6. Memanfaatkan kemajuan IPTEK dalam pendidikan
7. Menguasai keilmuan dan keterampilan sesuai materi pembelajaran

Standar Kompetensi pendidik/guru/instruktur dari suatu lembaga sekolah/pelatihan haruslah dilakukan identifikasi dan penetapan kaidah dengan jelas, karena kompetensi pendidik menyangkut bagaimana tingkat standar kemampuan, keahlian seseorang berupa: pengetahuan, sikap perilaku dan ketrampilan yang sangat diperlukan dalam pelaksanaan proses pembelajaran tertentu (sekolah, pelatihan, dll). Adanya proses pengukuran/identifikasi kompetensi inilah merupakan keharusan dalam penetapan kualifikasi kelayakan pendidik/guru/instruktur dalam menyampaikan materi ajar nantinya.
Pengembangan kompetensi SDM akhirnya perlu dilakukan oleh suatu organisasi, dengan berbagai cara diantaranya :

1. Foundation Learning Program : Fokus topik lintas sektor.
2. External Job Program : Pelatihan kerja.
3. Employer-Based Job Training.
4. Work Place Learning Activities.
Ke empat poin diatas adalah tindakan pengembangan kompetensi SDM yang dapat dilakukan secara umum oleh berbagai organisasi pembelajaran untuk meningkatkan kebutuhan standar kompetensi suatu jabatan pendidik/pengajar/guru.
(Sumber : Dr. Marlin Marpaung)