Tampilkan postingan dengan label Pendidikan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pendidikan. Tampilkan semua postingan

1/24/2009

Pendidikan Etika Bagi Anak Sejak Dini




Pendidikan Etika Bagi Anak Sejak Dini
Oleh: Charle Richard Mandalora

Abstrak
Anak pada usia pra-sekolah memiliki naluri untuk meniru dari apa yang ditemukan dan diamati, pada usia ini pulalah timbul adanya proses awal pembentukan kepribadian. Seluruh pengaruh yang dirasakannya dapat dijadikan sebagai sebuah pengalaman baru, serta ide baru untuk mencoba menjadikannya sebagai suatu pengetahuan. Suatu keadaan lingkungan tertentu dapat memberikan pengalaman baru yang dipahami oleh mereka. Bagaimana kita mengerti proses yang terjadi tersebut sebagai suatu natur yang wajar, sehingga dalam upaya memberikan pendidikan mengenai etika akan lebih berhasil. Hal ini dipandang sangat perlu untuk memberikan pengertian tentang batasan moralitas yang tumbuh dimasyarakat modern saat ini, karena pengertian ini juga sebagai dasar dalam membentuk karakter sianak dikemudian hari.
Kata Kunci: Etika, Etiket, Moral, Immoral, Egosentris.

Abstract
Children at pre-school age have the instinct to imitate whatever they find and see; at this age also the initial process of their personality development begins. All things that influence them can be transformed into new experiences and ideas and even knowledge. Influences from the environment become new experiences to be understood by them. How do we understand this process as a common nature, so that our efforts in giving ethics education will be more successful. This is very important in giving an understanding on the limit of morality in today’s modern society, because this understanding is also a foundation in shaping the children’s character in the future.

Istilah-istilah “moral” dan “immoral” dapat berarti : “moral” adalah segala sesuatu yang berdasarkan dengan kebiasaan-kebiasaan yang sesuai dengan adat/baik, sedangkan “immoral” dapat diartikan sebagai sesuatu yang tidak sesuai dengan adat/keburukan. Pernyataan-pernyataan mengenai suatu keadaan dalam konteks baik atau buruknya tindakan keseharian yang ada dimasyarakat, memberikan pemikiran baru yang terus berkembang dikalangan masyarakat baru tersebut. Masyarakat tradisional memiliki tradisi-tradisi yang sangat kuat sehingga norma yang timbul dari tradisi tersebut menciptakan adanya suatu nilai-nilai etika yang spesifik pula. Pada masyarakat modern dimana struktur masyarakat yang ada sangat heterogen dan plural, bentuk tradisi tidaklah terlalu dipersoalkan maka nilai estetika yang ada dapat dicirikan sebagai:
1. Adanya pluralisme moral.
2. Timbul masalah etis baru yang dulu tidak terduga.
3. Tampak semakin jelas suatu kepedulian etis yang universal.
Pluralisme moral terutama saat ini dirasakan, karena kemajuan era globalisasi melalui teknologi yang sangat mutakhir, baik internet ataupun sarana komunikasi lainnya. Keadaan inilah yang memberikan pandangan terhadap moral yang semakin tidak jelas, misalnya bagaimana diupayakan melegalkan adanya prostitusi, homoseksual, dll. Pendidikan etika yang jelas dan baik perlu dilakukan untuk memberikan dasar pola pikir untuk mengartikan definisi moralitas secara jelas bagi anak-anak didik dizaman sekarang.
Perilaku & Kepribadian

Manusia pada dasarnya memiliki dua aspek, dalam dirinya yaitu: aspek Kemampuan (intelegensia, prestasi, dan bakat), dan aspek kepribadian (watak, sifat, minat, emosi, motivasi). Dalam keadaan yang stabil maka perlu adanya kesesuaian antara kepribadian dan lingkungan sosial dalam diri seseorang dimana keduanya dinyatakan harus berimbang, jika tidak maka orang tersebut akan merasakan ketertolakan, serta akan mencari lingkungan sosial baru yang lebih berimbang.
Secara umum definisi pokok mengenai kepribadian, adalah : kesan yang diberikan seseorang kepada orang lain yang diperoleh dari apa yang difikir, dirasakan dan diperbuat serta dapat terungkap melalui perilaku. Dalam perkembangan kepribadian pada diri seseorang menurut Ericson terdapat 8 fase tahapan, sbb:

Tabel 1. Tahapan perkembangan karakteristik kepribadian menurut Ericson:
Tahapan Usia
(Dalam Tahun) Karakteristik : Sukses X Gagal

Bayi Awal 0-1 Percaya X Tidak percaya
Bayi Lanjut 1-3 Otonomi X Malu dan ragu2
Anak-anak awal 4-5 Inisiatif X merasa bersalah
Anak-anak pertengahan Membuktikan kemampuan X Kekacauan peran
Dewasa awal 12-40 Kekariban X Pengasingan
Dewasa pertengahan 30-65 Penyamaratakan X Tidak aktif
Usia lanjut Diatas 65 Menggabungkan X putus asa

Perubahan dalam kepribadian seseorang tidak terjadi secara spontan tetapi merupakan hasil dari pengalaman, tekanan, dan lingkungan social budaya serta factor internal dari individu itu sendiri, dapat diuraikan beberapa faktor yang dapat mempengaruhi situasi tersebut diantaranya:
1 Pengalaman awal, Sigmund Freud menekankan tentang pentingnya pengalaman awal (masa kanak2) dalam perkembangan kepribadian.
2. Pengaruh budaya, Dalam menerima budaya anak mengalami tekanan untuk mengembangkan pola kepribadian yang sesuai dengan budayanya.
3. Penerimaan sosial, Anak yang diterima dalam lingkungan sosialnya dapat mengembangkan rasa percaya diri dan kepandaiannya, juga sebaliknya yang diterima lingkungan sosialnya akan cenderung menutup diri.
4. Pengaruh dari keluarga, hal ini sangat mempengaruhi kepribadian anak karena waktu terbanyak sianak adalah bersama keluarganya sendiri.
5. Intelegensia, perhatian yang berlebih terhadap sianak dapat menjadikannya sebagai pribadi yang kurang baik.

Teori Kepribadian menurut Larry A. Hjelle dan Daniel J. Ziegler dapat dikalsifikasikan kedalam tiga kategori, yaitu :
a. Psikoanalisis.
Teori ini adalah hasil Riset dari Sigmund Freud, yang menggambarkan bahwa manusia adalah mahluk yang memiliki naluri dan konflik batin. Berdasarkan analisa yang dilakukan tentang gangguan mental terhadap orang menekankan pada kekuatan ketidaksadaran dan mengambil faktor irrasional sebagai faktor penontrol dari perilaku manusia.
b. Behaviorism.
Pandangan bahwa manusia bersifat mudah dibentuk, juga merupakan obyek pasif dari keadaan didalam lingkungan. Salah satunya adalah BF Skinner yang berpendapat belajar berdasarkan pengalaman adalah kualitas dasar dalam membentuk kepribadian.
c. Humanic Psychology.
Merupakan pandangan baru dalam kepribadian manusia yang memberikan gambaran sangat berbeda tentang setiap manusia, dan pada dasarnya manusia adalah baik dan dapat menyempurnakan diri maka secara alamiah akan berubah secara konstan kearah pengembangan diri dan mencukupi dirinya sendiri. Para ilmuwan yang terlibat didalamya dan menggunakan teori Humanic Psychology sebagai dasar pemikiran diantaranya adalah : Carl Rogers, Abraham Maslow, Erich Fromm.
Terdapat beberapa faktor yang mempengaruhi kepribadiaan seseorang, diantaranya:
• Faktor bawaan sejak lahir (genetik), yaitu keadaan yang dibawa sejak lahir.
• Pengalaman melalui interaksi dengan lingkungan, adalah hasil interaksi dengan lingkungan sekitarnya yang menyebabkan pertumbuhan kepribadian yang mengarah kepada hasil interaksi tersebut.
• Faktor khusus (bakat).

Perkembangan Dan Pertumbuhan Anak
Pertumbuhan manusia dimulai dari embrio, yaitu hasil pertemuan antara sel pria (sperma) dan sel wanita (ovum). Pada saat ini cikal bakal kehidupan bagi seseorang terbentuk selama 9 bulan yang akhirnya dilahirkan. Selama masa itu proses pertumbuhan terjadi melalui penyempurnaan organ-organ tubuh yang ada hingga mencapai titik sempurna. Pertumbuhan anak pada tahun-tahun pertamanya setelah dilahirkan sangatlah pesat membentuk suatu kelengkapan dari fungsi-fungsi inderanya.
Gesel dan Amtruda mengemukakan tahapan secara berurutan mengenai perkembangan fisiologis manusia hingga berusia 5 tahun, sebagai berikut :
1. Tahap Konsepsi, yaitu tahapan saat sperma memasuki ovum dan dalam proses pertumbuhan tersebut terjadi pula pembentukan sel germinal.
2. Tahap embriotik (1-8 minggu), tahap pertumbuhan sistim saraf.
3. Fetal (2-2.5 bulan), tahap dimana terjadi fungsi informasi dan komunikasi dengan sensitivitas oral.
4. Perluasan fetal (2.5-3.5 bulan), adalah tahap terjadinya pengembangan fungsi vital sistim saraf dan otak.
5. Refleks (3.5-4 bulan), terjadinya perkembangan sisitim reflek.
6. (4-4.5 Bulan), tahap terjadinya perkembangan fungsi pernapasan pada bayi
7. (4.5-5 bulan), tahap dimana terjadinya fungsi tangan dan bayi mulai bergerak.
8. (5-6 bulan), tahap terjadinya perkembangan fungsi leher.
9. (6-lahir), tahap perkembangan fungsi otonomik.
10. Kelahiran, dimana fungsi vegetatif sudah berkembang sangat pesat.
11. Fungsi penglihatan (1 bulan), bayi berkembang untuk melihat benda-benda dan lingkungan disekitarnya.
12. Keseimbangan (4-7 bulan), gerakan kepala sudah berimbang.
13. Fungsi tangan (7-10 bulan), garakan tangan anak terarah dan semakin kuat.
14. (10 bulan-1 tahun). Tahap perkembangan funfsi otot dan anggota badan lainnya.
15. (1 tahun – 1.5 tahun), perkembangan fungsi kaki untuk berjalan.
16. (1.5-2 tahun), perkembangan verbal untuk belajar menirukan dan mengulangi kata2 yang didapat.
17. (2-3 tahun), belajar untuk melakukan aktifitas pribadi yaitu buang air, dll.
18. (3-4 tahun), perkembangn fungsi bicara dengan baik dan jelas.
19. (4-5 tahun), perkembangan untuk belajar proses penghitungan.
20. Tahapan sosialitas (5-7 tahun), tahap dimana anak mulai belajar bergaul dengan sebayanya, maka pada usia ini anak sangat tepat untuk diberikannya pendidikan formal/sekolah.

Tahapan pertumbuhan fisik dan aktifitas anak diatas merupakan tahapan secara umum yang terjadi pada proses bertumbuhnya seorang anak, namun terdapat beberpa kasus yang bisa melebihi ataupun lambat dari pada waktu2 yang diberikan diatas, hal ini merupakan tahapan diluar kenormalan yang ada.
Secara lebih luas maka dikemukan suatu uraian tahapan berdasarkan pertumbuhan pribadi dan pola aktivitas dari anak pada umumnya yaitu :
• Perkembangan Vital : 0 – 2 tahun.
• Perkembangan ingatan : 2 - 3 tahun.
• Perkembangan kekuatan dan imajinasi : 3 – 4 tahun.
• Perkembangan Pengamatan : 4 – 6 tahun.
• Perkembangan intelektual : 6 – 13 tahun.

Untuk selanjutnya topik dari tulisan ini akan membicarakan dan mengkonsentrasikan pada proses perkembangan pribadi anak di usia pra-sekolah (0 – 5 tahun).
Perkembangan anak diusia 0 – 2 (toddler) tahun adalah sangat sibuk bicara. Bergerak, dan berencana sepanjang waktu, akibat dorongan aktifitas yang berlimpah ini maka menjadi suatu kebutuhan untuk sikap ingin pernyataan diri dan penguasaan.
Anak pada usia 2-4 tahun biasanya sudah sadar akan individualitasnya dan terdorong untuk selalu membuktikannya, pada periode ini mereka belajar untuk memperhitungkan orang lain dalam penemuan diri mereka sendiri. Belajar untuk berubah dari sifat egosentris yang tidak menyadari ketergantungan kepada orang lain menjadi pribadi yang sadar diri.
Toddler memiliki hasrat keinginannya sesaat yang besar jika pada suatu saat tidak terpenuhi maka ia akan memiliki perasaan marah dan frustasi. Luapan emosi anak usia ini sulit dikontrol, pada saat ini mereka belajar untuk menaikan kendali tersebut. Proses belajar yang dialaminya bahwa apa yang diinginkan walupun tidak saat itu juga tersedia namun pada masa2 datang akan disediakan, dari keadaan ini mereka belajar untuk menghargai masa datang.
Anak usia dini 0-2 tahun menggunakan bahasa untuk menyatakan perasaan mereka, mereka belajar memahami kata-kata yang menyenangkan yang diucapkan orang tuanya ataupun orang lain sehingga mereka dapat mengurangi sakit yang berhubungan dengan perasaan. Pada awal menginjak masa usianya toddler terkesan sangat penuntut, kurang sabar, dan gampang frustasi, namun diakhir masa usianya terlihat dapat lebih mengatur kesabaran lebih baik. Penguasaan bahasa, kemampuan mengekspresikan fantasi, memahami waktu, dapat berpartisipasi dalam beberapa keputusan yang ditanyakan kepadanya. Pada saat mereka mengerjakan suatu pekerjaan yang komplek dan berhasil maka akan mendapatkan keyakinan yang bertambah untuk pekerjaan selanjutnya. Langkah terbaik untuk membimbing dalam suatu pekerjaan adalah dengan membiarkan mereka melakukannya dan memberikan bantuan pada saat mereka kesulitan.
Toddler akan belajar dan meniru dari apa yang dilihatnya, baik tindakan, kata-kata, perilaku, gaya bicara.

Pengajaran Karakter dan Etika
Dalam suatu pembicaraan mengenai pertumbuhan sosial maka : emosi, mental dan fisik adalah suatu hubungan yang sangat erat, sehingga salah satu faktor saja sudah dapat memberikan dampak kepada kepada perkembangan sosial individu tersebut. Power mendefinisikan perkembangan sosial dan karakter sebagai berikut:
1. Perkembangan sosial didefinisikan sebagi suatu kemajuan yang progresif melalui kegiatan yang terarah dari individu.
2. Karakter dapat didefinisikan sebagai: kecenderungan tingkah laku yang konsisten secara lahiriah dan batiniah, adalah hasil kegiatan yang sangat mendalam dan kekal yang nantinya akan membawa kearah pertumbuhan sosial.
3. Perkembangan sosial adalah kemampuan seseorang dalam bersikap atau tatacara perilakunya dalam berinteraksi dengan unsur sosial dimasyarakat.
Menurut Erikson : Masa kanak-kanak awal (toddler) pengembangan self kontrol tanpa mengurangi self esteemnya, akan menumbuhkan rasa otonomi/mandiri, atau sebaliknya.
Sedangkan pada masa kanak-kanak kesempatan untuk berprakarsa dalam menumbuhkan inisiatif sebaliknya bila sering dilarang akan timbul rasa
4. Menurut Singgih D. Gunarsa: perkembangan sosial merupakan kegiatan manusia sejak lahir, dewasa hingga akhir hidupnyaakan terus menyesuaikan dirinya dengan lingkungan sosialnya yang menyangkut norma-norma sosial budaya masyarakatnya.
Pengajaran etika pada usia dini mencangkup pendidikan sederhana yang mengajarkan prinsip-prinsip yang sangat utama dalam upaya membentuk kebiasaan yang baik, sebagai pengenalan dan memberikan pengertian bagi sianak. Pembiasaan diri itu perlu untuk memberikan perilaku yang berulang bagi sianak, hingga akhirnya dapat menemukan eksistensi dan makna yang ada mengenai kebiasaan itu sendiri. Pengajaran mengikuti pola siklus pertumbuhan kepribadian pada manusia yang sesuai dipenggolongan umurnya.
Anak usia dini dengan karakteristiknya yang sangat peka, desain pembelajaran yang diberikan harus mengikuti pola perubahan karakter yang terjadi.
Materi pendidikan yang diberikan secara umum untuk anak diusia 2-5 tahun dapat berupa:

Sifat Karakter Bertumbuh: Model Pembelajaran

Luapan Emosi Bertambah: Jelaskan kebiasaan kurang baik untuk emosi berlebihan.
Meniru keadaan yang ada: Menceritakan berbagai keberhasilan yang dicapai.
Sifat Egosentris : Berikan pengertian untuk perduli kepada sesama.
Tidak konsisten : Pendidikan ttg hal yang kurang baik: sikap, perilaku.

Dengan pendekatan ini diharapkan sianak dapat lebih memiliki suatu pengertian mengenai bagaimana perilaku yang baik harus dijaga, yang sebenarnya merupakan suatu etika moral dalam masyarakat. Untuk siklus pertumbuhan selanjutnya perilaku anak tetap harus diberikan proses pembelajaran mengenai norma-norma etika, sebagai dasar bagi pertumbuhan selanjutnya kemasadepannya.

Daftar Pustaka
1. K. Bertens, “Etika”, PT. Gramedia Pustaka Utama.
2. Prof. Dr. H. Djaali, “Psikologi Pendidikan”, Bumi Aksara, 2007.
3. Crow, DL., Dan Crow, A. 1989. Psikologi Pendidikan, Yogyakarta.
4. Prof. Dr. Hamzah B. Uno, Mpd. Model Pembelajaran. Bumi Aksara. 2007.
5. Margaret E. Gredler. Learning And Instruction. Merril Prentice Hall.1989.

1/08/2009

Pikiran Yang Dipetakan.



Oleh: C.Richard M

Konsep Mapping
Siswa sering diasumsikan sebagai pembelajar yang terampil dan mampu untuk mengerti dan mengaplikasikan pengetahuan yang didapat melalui teks. Bagaimanapun akhirnya terlihat bagaimana siswa mengalami berbagai kesulitan ketika harus mendefinisikan suatu informasi yang penting. Berakar dari masalah tersebut akhirnya terdapat pendapat dan konsep pengorganisasian yang dianggap baik (Bransford and Stein 1984; Schwartz, Bransford, and Sears 2005).
Sebuah konsep peta merupakan salah satu cara menggambarkan hubungan antara ide, gambar atau kata-kata, dengan cara yang sama bahwa kalimat diagram mewakili tata bahasa sebuah kalimat, sebuah peta jalan merupakan lokasi dari jalan raya dan kota, dan diagram sirkuit merupakan cara listrik yang sudah mendunia. Dalam konsep peta, setiap kata atau frase terhubung ke lain terkait dan kembali ke ide asli, kata atau frase. Konsep peta adalah untuk mengembangkan cara berpikir logis dan kemampuan belajar, dengan mengungkapkan dan membantu siswa bagaimana melihat setiap ide bentuk yang lebih besar secara keseluruhan.
Konsep pemetaan dikembangkan untuk meningkatkan belajar, hal ini maka sangat berarti dalam ilmu pengetahuan. Terdapat bukti penelitian bahwa pengetahuan akan disimpan dalam memori otak dan dapat diungkapkan kembali dalam dan upaya menerangkannya kembali. Di antara berbagai skema dan teknik untuk penggambaran ide, proses, organisasi, serta konsep pemetaan, maka akan dapat mencerminkan apa yang anda pikirkan tentang satu topik. Sebuah Konsep peta dapat lebih bebas melihat situasi yang nyata (abstrak) sehingga dapat digunakan di berbagai konsep keadaan.
Konsep teknik pemetaan dikembangkan oleh Joseph D. Novak dan tim penelitian di Cornell University di tahun 1970-an. Ia kemudian menggunakannya sebagai alat untuk meningkatkan pembelajaran, juga dalam ilmu pengetahuan dalam pendidikan, pemerintah dan bisnis. Konsep pemetaan ini dapat digolongkan sebagai tindakan membangun Konstruktif.
Novak's bekerja didasarkan pada teori kognitif Daud Ausubel (penulis teori), yang menekankan pentingnya pengetahuan sebelum mempelajari konsep baru: "Yang paling penting satu faktor yang mempengaruhi belajar adalah bagaimana sipelajar dapat membangun dari apa yang sudah diketahui”. Novak diajarkan sebagai siswa muda tahun ke enam untuk membuat konsep peta, yang lebih kepada fokus ke pertanyaan seperti" Apa itu air? " "What causes the seasons?" "Apa yang menyebabkan musim?" In his book Learning How to Learn , Novak menyatakan bahwa "berarti belajar melibatkan upaya menulis baru yang sebenarnya ada dalam struktur ketrampilan kognitif."
Konsep peta digunakan untuk merangsang terjadinya ide, dan dipercaya untuk membantu kreativitas. Misalnya, konsep pemetaan ini kadang-kadang digunakan untuk berkomunikasi dengan ide yang kompleks. Konsep peta yang banyak digunakan dalam dunia pendidikan dan berusaha untuk:
•Penciptaan pengetahuan baru: misalnya, mengubah tacit menjadi sebuah organisasi sumber daya, pemetaan tim pengetahuan.
•Pemodelan pengetahuan dan transfer pengetahuan dari para ahli.
•Memfasilitasi penciptaan visi bersama dan pemahaman bersama dalam sebuah tim atau organisasi.
•Desain Instruksional: peta konsep digunakan sebagai konseptual awal untuk informasi dan pembelajaran.
•Pelatihan: peta konsep digunakan sebagai mewakili konteks pelatihan dan hubungannya dengan pekerjaan mereka.
•Peningkatan berarti dalam belajar:
•Berkomunikasi kompleks dengan ide-ide dan argumen:
•Meneliti dari kompleks ide-ide dan argumen yang terkait.
•Memperincikan seluruh struktur ide, pikiran, atau baris argumen (dengan tujuan spesifik menghindari kesalahan).
•Peningkatan metacognisi (belajar untuk belajar, dan berpikir tentang pengetahuan) .
•Meningkatkan kemampuan berbahasa.
•Menilai pelajar memahami tujuan belajar, konsep, dan hubungan di antara konsep yang ada.

12/29/2008

Pendidikan dialam untuk Anak TK

Proses Pembelajaran Yang Dilakukan Dialam Bebas
Oleh : C.Richard Mandalora

Pemberian program pembelajaran dibeberapa sekolah TK yang dilakukan dialam terbuka, anak-anak diperkenalkan kepada berbagai jenis tanaman, dan seluruh bagiannya. Pengenalan mengenai hewan yang ada misalnya kupu-kupu dan serangga lainnya dan bagaimana mereka hidup.
Pengenalan alam ini dimaksudkan sebagai memicu perkembangan aspek-aspek kognitif, afektif dan psikomotorik anak. Pengembangan aspek-aspek tersebut dilakukan diantaranya dengan mendorong si anak untuk mampu menemukan bermacam-macam alternatif pemecahan masalah, mengembangkan kemampuan logika, pengetahuan ruang dan waktu. Tak hanya itu, anak juga diarahkan untuk mempunyai kemampuan memilah, mengelompokkan, serta mempersiapkan pengembangan kemampuan berpikir teliti. Hal tersebut sangat baik untuk membentuk pengaruh positif peningkatan strategi kognitif melalui faktor eksternal kepada internal dari si anak.
David Kolb 1984, mengemukakan gagasan mengenai konsep belajar berdasarkan pengalaman, dimana hal tersebut akhirnya berdampak sangat luas pada perancangan dan pengembangan model pembelajaran.
Experiental Learning itu sendiri berisi 3 aspek yaitu :
- Pengetahuan (konsep, fakta, informasi).
- Aktivitas (penerapan dalam kegiatan).
- Refleksi ( analisis dampak kegiatan terhadap perkembangan individu).
Ketiganya merupakan kontribusi penting dalam tercapainya tujuan pembelajaran.
Dalam merancang pembelajaran dengan metode ini, terdapat 4 tahapan dari siklus yang harus dilalui si pembelajar yaitu :
1. Experiencing, suatu pengalaman kongkret.
2. Reviewing, observasi.
3. Concluding, pembentukan konsep abstrak.
4. Planning, mencoba hasil pembelajaran yang dialaminya.
Kegiatan yang dilakukan oleh para guru TK diatas merupakan suatu kegiatan yang
Sangat tepat, melalui model pembelajaran tersebut anak dapat belajar menarik kesimpulan sendiri dari apa yang dipelajarinya dilingkungan sekitarnya, melalui berbagai aspek pembelajaran baik kognitif, fisik, bahasa dan seni.
Standar Kompetensi Anak Usia Pra-Sekolah
Standar kompetensi anak usia Pra-sekolah adalah suatu standar dari kemampuan seorang anak pada batasan pra-sekolah (usia 0-6 tahun) yang proses pengamatannya didasarkan pada perkembangan anak dari beberapa aspek. Standar kompetensi ini akan digunakan sebagai acuan dalam mengembangkan kurikulum anak usia pra-sekolah.
Standar kompetensi anak pra-sekolah terdiri atas pengamatan dari perkembangan terhadap beberapa aspek dalam diri anak, sebagai berikut:
a. Moral dan nilai-nilai agama
b. Sosial, emosional, dan kemandirian
c. Bahasa
d. Kognitif
e. Fisik/Motorik
f. Seni
Terdapat pandangan yang benar dalam metode pembelajaran bagi anak TK, berdasarkan ulasan temuannya terhadap kondisi pembelajaran yang ada saat ini, dimana tujuan dari pembelajaran usia pra-sekolah tidak tepat dan sangat memaksakan anak, maka diberikan suatu wacana pembelajaran dialam bebas untuk merangsang perkembangan dari beberapa aspek sasaran internal anak TK. Wacana ini sangat baik dan tepat diberikan bagi anak-anak, dengan pengarahan yang baik dari gurunya memfasilitasi mereka bagaimana menerapkan siklus belajar berdasarkan pengalaman mereka sendiri.

10/25/2008

Strategi Kognitif Memecahkan Masalah

Strategi Kognitif:
Pemecahan Masalah


Definisi Kemampuan dalam menilai dan menganalisis problem atau suatu kondisi yang ada dan memberikan suatu definisi alternatif tertentu dalam penyelesaian yang dapat diambil.
Urutan langkah :
1. Mengidentifikasi dan mendefinisikan secara jelas adanya suatu persoalan yang sedang ada.
2. Mengidentifikasi kondisi-kondisi yang menjadi penyebab timbulnya permasalahan tersebut.
3. Mengidentifikasi keadaan lain yang dapat ditimbulkan oleh permasalahan tersebut :
4. Memberikan gambaran beberapa alternatif penyelesaian, melalui pengurutan berdasarkan skala yang diperkirakan tepat.
5. Memilih beberapa alternatif melalui analisis:
- Resiko.
- Keadaan lain yang dapat ditimbulkan.
- Pengaruh kepada pengambil keputusan.
- Strategi dan pelaksanaannya.
6. Memilih alternatif terbaik.
Aturan : 1. Bagaimana menganalisis situasinya.
- Melihat dengan cepat adanya suatu permasalahan yang ada.
- Memiliki dasar kriteria umum sebagai tolok ukur dalam menjabarkan
suatu rencana awal pemecahan.
- Membandingkan dengan berbagai keputusan lainnya yang pernah dibuat dengan topik permasalahan yang sejalan.
2. Bagaimana langkah memulainya.
- Dapat mengasumsikan persoalan sebagai suatu model.
- Menganalisis melalui model yang ada bagaimana langkah penyelesaiannya
- Memiliki referensi utama baik berupa akses data ataupun kasus yang
sudah pernah ada, untuk dijadikan sebagai dasar analisis.
7. Pengetahuan :
Kemampuan dalam menilai suatu kondisi yang ada dan memberikan dampak kekondisi lain. Mengerti bagaimana terjadinya hubungan conflic Interest, conflic ataupun perlawanan dari pihak lain dalam pengambilan keputusan nantinya.

(Oleh : C, Richard Mandalora).