Tampilkan postingan dengan label Property. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Property. Tampilkan semua postingan

1/15/2009

Konsep Membangun



KONSEP MEMBANGUN : PAHAMI KONDISI ALAM, MAKA DIHASILKAN HUNIAN YANG NYAMAN
Ditulis Oleh : Charle Richard Mandalora, ST.,MT

Selain denah dan tampak rumah yang cantik, ada berbagai kriteria lain yang harus diperhitungkan dalam rancangan rumah tinggal, salah satunya adalah kemampuan bangunan untuk menyesuaikan diri dengan lingkungan disekelilingnya, Alangkah baiknya jika kita mengetahui paling tidak dasar dari pemikiran rancangan tersebut secara umum, karena hal ini menyangkut kenyamanan rumah yang nantinya akan kita huni.

Alam memiliki kekuatan sangat besar yang dapat berdampak buruk ataupun baik bagi kehidupan manusia, hal ini amat bergantung dari kemampuan adaptasi kita terhadapnya. Manusia yang dalam kegiatannya tidak mengindahkan kondisi alam, dapat berdampak buruk terhadap kualitas maupun kehidupan manusia itu sendiri. Banyak kejadian2 akibat pengaruh buruk tersebut seperti: polusi yang tinggi, pencemaran, banjir, tanah longsor, Epidemi penyakit, dll. Disisi lain dengan kekuatan alam yang besar tersebut dapat memberikan kontribusi yang sangat baik bagi kehidupan manusia, jika kita dapat beradaptasi dan mengelolanya dengan baik.
Memahami kondisi alam lingkungan sekitar kita amatlah perlu pada saat kita merencanakan pembangunan hunian dilingkungan tersebut, alangkah sangat baiknya jika perencanaan hunian yang dilakukan disesuaikan dengan kondisi alam yang ada.

Rumah Tinggal
Dalam salah satu skala mikro yaitu pembangunan hunian tinggal, dengan melakukan pemahaman terhadap keadaan alam disekelilingnya dan melakukan beberapa langkah penyesuaian dalam desainnya maka diharapkan akan mendapatkan rumah tinggal yang cukup nyaman dihuni. Beberapa sifat alam yang dapat diadaptasi dan dimanfaatkan adalah sebagai berikut :
1. Temperatur harian rata2.
2. Kondisi umum udara.
3. Kecepatan hembusan angin.
4. Arah matahari terbit pagi hari.
Masing-masing faktor inilah yang dapat dilakukan penyesuaian dalam mendesain hunian tinggal, yang diharapkan akan memberikan pengaruh positif secara alami terhadap calon penghuninya. Langkah penyesuaian yang akan dibicarakan dalam topik ini adalah melalui beberapa langkah khusus dalam mendesain hunian dalam menyiasati sifat alam tersebut diatas.
I. Temperatur Harian Rata2 Dan Kondisi Umum Udara
Manusia perlu untuk melakukan berbagai penyesuaian dalam merencanakan suatu hunian tinggal dengan kondisi iklim lingkungan untuk memberikan unsur protektif dan kenyamana untuk tinggal dan menetap.
Pada daerah dengan suhu rata2 yang cukup panas seperti di Indonesia ( 31-340C ), faktor ini akan mempengaruhi kenaikan suhu ruangan didalam rumah. Untuk mengurangi kenaikan suhu tersebut maka diperlukan adanya suatu proses pendinginan ( cooling process ), yang bertujuan untuk menjadikan ruangan akan terasa lebih nyaman. Pada alternatif proses alami, dapat mengandalkan aliran sirkulasi udara dan menyiasati beberapa detail dari rancangan hunian. Berikut diberikan contoh menyiasati rancangan untuk daerah beriklim Tropis.
Proses Penyesuaian
Suatu rancangan awal untuk proses pendinginan alami hendaknya memperhatikan hal-hal sebagai berikut :
1. Buatlah rancangan denah rumah dengan mengurangi adanya dinding sekat pembatas ruangan yang dinilai tidak perlu. Siasati penggunaan ruangan yang menyatu untuk berbagai fungsi : misalnya ruang tamu dan ruang keluarga, yang berada diruang tanpa pembatas sekat. Sebagai pembatas alternatif dapat digunakan variasi perbedaan peil tinggi lantai atau penggunaan perangkat interior yang ditata apik sesuai selera. Rancangan ini akan membantu adanya proses sirkulasi perputaran udara menjadi lebih baik.
2. Rancanganlah penggunaan lubang ventilasi hawa pada bagian depan, belakang, samping kiri dan kanan bangunan dibagian dinding vertikal yang datar. Sebab ventilasi ini akan berfungsi sebagai jalur masuk dan keluarnya aliran sirkulasi udara pada setiap ruangan. Ventilasi dapat dibuat menyatu dibagian atas kusen pintu atau jendela, juga dapat dibuat suatu lubang khusus (Ventilation Hole) pada bagian atas dinding.
3. Buatlah lubang ventilasi dibagian muka, belakang atau samping rumah pada bagian dinding sopi2 (dinding menerus keatas sebagai kedudukan rangka atap), yang berfungsi sebagai aliran masuk dan keluarnya udara pada ruang diantara plafond dan penutup atap (loteng), karena ruang ini sangat berpotensi menyalurkan radiasi panas yang berasal dari bahan penutup atap dan berpengaruh pula pana ruang dibawahnya. Dengan adanya aliran udara tersebut, maka panas radiasi tersebut akan dinetralisir mengikuti aliran angin kearah keluar diudara bebas.



4. Perlu direncanakan ventilasi tambahan bagi ruangan yang digunakan sebagai aktifitas khusus yang banyak menghasilkan energi panas misalnya pada ruang dapur, dengan pemakaian instalasi fan penghisap hasil aktifitas masak memasak tadi yang berupa panas, asap dan sekaligus bau dapat disalurkan melalui suatu saluran menuju keudara bebas. Langkah ini dapat mengurangi radiasi panas yang dihasilkan oleh aktivitas diruang tersebut.
5. Dalam memilih bahan penutup atap rumah anda, pilihlah bahan atap yang dapat melindungi dan menyerap panas sinar matahari langsung dengan baik. Hal ini dapat dikonsultasikan kapada produsen bahan penutup atap yang banyak beredar sekarang ini. Genteng konvensional berbahan tanah liat/keramik adalah salah satu bahan yang cukup baik dalam upaya meredam panas.
6. Sebaiknya rencanakan pembuatan denah bangunan dengan dinding terluar dari rumah memiliki jarak kosong terhadap dinding pagar halaman/kavling (A), hal ini dapat membantu proses pendinginan alami dari dinding rumah dengan bantuan hembusan angin. Jika lokasi kavling tidak terlalu besar dapat dibuat alternatif model dengan dinding tekuk sudut (B)
7. Rencanakan pemasangan penutup plafond dengan elevasi dari lantai yang dibuat lebih tinggi, buatlah misalnya > 3.15 ), karena hal ini akan menghambat proses pemanasan yang terjadi di ruang tersebut sehingga dapat dengan cepat dinetralisir oleh aliran angin yang masuk.
8. Akan sangat membantu jika kemiringan atap dibuat dengan derajat sudut kemiringan yang lebih besar, sehingga akan didapatkan ruang loteng yang lebih besar, hal ini akan memperlambat proses pemanasan yang terjadi di ruang loteng dari radiasi panas genteng penutup, situasi ini menjadikan ruang loteng akan lebih cepat didinginkan oleh aliran udara yang masuk dan keluar melalui lubang ventilasi (point 3). Atap model ini banyak dijumpai pada bangunan tempo dulu berarsitektur Indonesia klasik peninggalan penjajah Belanda.
9.


10.Pergunakanlah warna-warna cat pada dinding luar (exterior) yang bersifat tidak menyerap panas sinar matahari, karena pengaruh radiasi panas hasil serapan akan diteruskan ke bagian dinding diruang dalam bangunan (interior), dan meningkatkan suhu ruangan dalam. Pergunakanlah warna yang memantulkan sinar matahari, dapat disebutkan jenis-jenis warna putih atau warna yang cerah yang dapat memantulkan dengan baik radiasi panas pada dinding luar. Jika anda ingin lebih bervariasi dapat digunakan warna yang cerah untuk bidang dinding yang besar dengan kombinasi warna lainnya yang lebih gelap untuk bidang yang lebih kecil.
11. Tanamilah halaman depan dengan pohon yang rindang karena hal ini dapat menahan terik sinar matahari secara langsung dan partikel debu yang beterbangan akibat hembusan angin, selain itu pohon yang rindang juga membantu proses penyerapan senyawa karbon dioksida sehingga lingkungan disekitar rumah kita akan terasa lebih sejuk pada siang hari.
12. Pergunakan penutup jendela seperti vertical blind atau tirai kain berwarna cerah untuk melindungi masuknya sinar matahari secara langsung kedalam ruangan atau penggunaan kaca film di kaca yang dapat mereduksi sinar hingga 60 %. Juga dapat dipergunakan Canopy pelindung jendela untuk melindungi sudut penyinaran matahari untuk jendela-jendela yang secara langsung terkena sinar matahari.

II. Sinar Matahari.

Arah matahari terbit perlu diketahui, karena penempatan tampak muka rumah tinggal yang baik mengambil arah 45-900 terhadap arah datangnya sinar pagi. Masuknya sinar matahari pagi dengan berbagai partikel bebas yang berguna kedalam rumah, dapat menghangatkan dan menetralisir bakteri sisa aktivitas pada malam hari. Hembusan angin yang terjadi dari arah ini juga dapat mengikat senyawa karbon yang berasal dari sisa aktifitas didalam rumah. Dampak positif juga terjadi pada kualitas dan pergantian udara didalam rumah, namun kesemuanya itu harus dengan syarat bahwa seluruh sirkulasi udara dapat mengalira dengan baik. Dari hal mereduksi panas matahari yang terjadi, penempatan tampak muka pada arah ini cukup baik karena tidak memberikan sinar matahai baik pagi dan sore yang langsung tertuju kebagian muka dan belakang rumah.



Akhirnya dengan beberapa penyesuaian bagi fisik bangunan seperti diuraikan diatas, cukup menjajikan hunian anda menjadi lebih nyaman ketika menghuni rumah baru yang tercinta. Selamat menghuni !!

11/16/2008

Optimalisasi Bangunan & Fasilitas Melalui Pemeliharaan

Oleh : C. Richard Mandalora
Bangunan adalah suatu hasil karya manusia yang dibangun dari berbagai bahan keras dan membentuk suatu wujud fisik, ditujukan dalam memenuhi kebutuhannya untuk melakukan berbagai aktifitas yang ada serta tempat berlindung, beristirahat bagi pembuiatnya. Berbagai jenis aktifitas serta tingkat besarnya akan mempengaruhi jenis, model dan ukuran dari wujud fisik bangunan yang dibuat. Maka timbulah berbagai kriteria pembagian bangunan menurut berbagai aspek pengamatan.
Menurut jenis strukturnya maka bangunan dapat dibagi menjadi :
1. Non-struktural : Adalah bangunan yang didirikan dimana kekuatan strukturnya tidak dihitung atau dipersiapkan, namun ditentukan hanya berdasarkan bagian yang dianggap pelengkap/tambahan saja.
2. Struktural : Adalah bangunan yang didirikan dengan memperhitungkan struktur dan mempersiapkannya dengan matang.
Sedangkan dengan melihat berdasarkan fungsi pemakaian yang ada, maka bangunan secara umum dapat dibagi kedalam :
1. Bangunan ibadah.
2. Bangunan hunian.
3. Bangunan Perkantoran.
4. Bangunan Industri.
5. Bangunan Kesehatan.
6. Bangunan sekolah.
7. Bangunan konstruksi laut.
8. Bangunan perhubungan.
9. Bangunan fungsi olahraga.
10. Bangunan Pemerintahan
11. Bangunan militer, dll.
Untuk jenis bangunan sekolah terdapat adanya ciri umum yang dibutuhkan dalam konsep rancangannya, hal ini dianalisa berdasarkan studi serta kebutuhan dalam aktifitas belajar.
Contoh analisa berdasarkan Fungsi tentang rancangan bangunan Sekolah :
Berdasarkan kriteria fungsi dari aktifitas pengguna, terdapat beberapa persyaratan pokok dalam membuat suatu rancangannya, misalnya:
1. Terdapat ruang2 kelas dengan kapasitas yang telah ditentukan dalam menampung murid.
2. Terdapat fasilitas laboratorium, kelas pendukung lainnya seperti : R.seni, TU, kantor management pengelola, aula dan perpustakaan.
3. Terdapat sarana2 olahraga.
4. Terdapat suatu kantin dengan kapasitas tertentu.
5. Terdapat ruang service, ruang tunggu orang-tua.
6. Sarana sosial, sarana umum.
Sedangkan kebutuhan dari suatu rancangan bangunan Kantor : Berdasarkan kriteria fungsi aktifitas dari pengguna, terdapat beberapa persyaratan pokok dalam membuat suatu rancangannya, misalnya:
1. Terdapat ruang2 untuk para staf, manager, maupun direktur.
2. Terdapat ruang meeting dengan kapasitas tertentu.
3. Terdapat ruang IT dengan kapasitas tertentu.
4. Terdapat R. Tunggu untuk tamu.
5. Ruang service.
6. Lobby, security. Dll
Dengan melihat 2 contoh dari jenis fungsinya saja telah terdapat banyak perbedaan untuk menyebutkan beberapa kriteria umum dalam suatu pererencanaan awal suatu bangunan. Perencana bangunan baik bidang Arsitektur Maupun Instalasi M&E harus memiliki suatu pemahaman aktifitas dari penggunaan bangunan nantinya, sehingga akan lebih mudah melakukan detil rancangan.
Dalam perjalanan suatu bangunan mulai perencanaan hingga masa manfaat, terdapat adanya suatu siklus hidup dari bangunan umum yang tahapannya dapat disebutkan & digambarkan sebagai berikut:
• Tahapan Perencanaan : Saat mula2 dilakukannya suatu desain, yang meliputi desain Arsitektur, Struktur, Plumbing dan juga Elektrikal.
• Tahapan Pelaksanaan : Suatu tahapan dimana dilakukannya pelaksanaan pembangunan oleh kontraktor.
• Tahapan Serah terima/pra pemakaian : Adalah suatu tahap dimana pemilik telah mengambil alih fisik bangunan dan melkukan persiapan dalam pemakainnya.
• Tahapan Pemakaian : Adalah suatu tahapan dimana pemilik sudah melakukan aktifitas dalam bangunan.
• Tahapan Pemeliharaan : Tahapan dimana bangunan tersebut harus dilakukan adanya usaha2 pemeliharaan untuk merawat dan memperpanjang usia pakainya.
Untuk tahapan Pemakaian dan Pemeliharaan waktu operasional yang digambarkan didiagaram diatas adalah bersamaan, oleh karena itu perlu dilakukan suatu koordinasi yang baik dalam pelaksanaannya agar tidak terjadi tumpang tindih koordinasi pekerjaan.
Bertambahnya usia bangunan akan mengakibatkan penurunan kualitas dan kemampuannya beserta segala sistim yang ada didalamnya. Bila tidak dilakukan suatu perawatan yang teratur maka kerusakan bangunan serta sistimnya akan terjadi dengan segera, yang dapat menimbulkan efek kesulitan serta hambatan dalam operasionalnya serta kerugian yang diakibatkannya sangat besar.
Usaha Optimalisasi Fungsi Bangunan
Pengertian umum dari usaha optimalisasi adalah suatu upaya yang dilakukan pihak tertentu, untuk mendapatkan suatu hasil yang sebesar2nya, dalam usaha optimalisasi terhadap fungsi bangunan dapat dijelaskan sebagai :
“Usaha2 yang dilakukan terhadap bangunan untuk mendapatkan hasil balik yaitu fungsi penggunaan bangunan yang besar”. Semakin besar & baik usaha yang dilakukan maka akan semakin optimal hasil yang diambil yaitu berupa fungsi pemakain bangunan tersebut.
Terdapat beberapa langkah usaha untuk mengoptimalisasi fungsi bangunan, yaitu:
1. Managemen pemakaian bangunan.
Yaitu langkah-langkah pengaturan dalam pengelolaan, penjadwalan pemakaian dan pengaturan ruang yang baik, akan mendapatkan fungsi pemakaian yang optimal.
2. Perencanaan awal yang baik.
Harus diketahui sejak awal untuk aktifitas apa dan oleh siapa bangunan nantinya akan dipakai, karena informasi ini harus distudi dan diterjemahkan kedalam perencanaan awal.
3. Pemeliharaan/Perawatan yang baik dan teratur.
Tindakan ini yang sangat perlu sekali dilakukan karena pemeliharaan bangunan dapat memberikan manfaat:
• Memperpanjang usia bangunan.
• Menjadikan bangunan selalu siap pakai.
• Memperindah tampak bangunan.
• Memberikan dampak psikologis kepada pemakai & pengamat bangunan itu sendiri.
• Mempersiapkan bangunan dalam suatu keadaan darurat bencana.
• Mendukung adanya pertumbuhan aktifitas yang ada didalamnya.
Untuk selanjutnya bidang pemeliharaan bangunan serta ruang lingkupnya adalah suatu bahasan yang praktis akan dibicarakan dalam konteks ini serta topik2 selanjutnya.
Pemiliharaan Sistim Bangunan/Gedung
Dalam suatu bangunan gedung terdapat berbagai sistim peralatan yang didisain dan diadakan menurut ukuran perencanaan besarnya fungsi, kegiatan, kompleksitas dari bangunan nantinya. Sistim tersebut akan menjadi suatu peralatan penunjang operasional dari gedung tersebut, hal tersebut secara skematik bisa digambarkan sbb:
Maka dengan kita mengetahui dan mengerti sistim apa saja yang ada digedung, kita dapatl menyusun kriteria dan prosedur tentang langkah2 melakukan pemeliharaannya. Untuk suatu bangunan gedung umum terdapat beberapa langkah pemeliharaan yang harus diperhatikan saat kita akan menetapkan suatu kebijakan pengelolaan gedung:
1. Kenali keseluruhan bangunan secara fisik melalui studi visual keseluruh bangunan. Tahapan awal ini dilakukan dengan tujuan agar kita harus benar2 mengenal kondisi yang ada saat ini, serta berbagai resiko yang harus diperhitungkan dalam kaitannya terhadap kerusakan bangunan.
2. Kenali seluruh sisitim2 yang ada disebuah bangunan melalui pengamatan langsung, serta mengamati dan menyimpulkan bagaimana kondisi terakhir yang ada. Studi inipun perlu dilakukan untuk mendapat gambaran awal mengenai perangkat sistim yang ada.
3. Studi mengenai gambar2 teknik serta spesifikasi yang ada dari bangunan dan komponen sistimnya yang ada. Mengenal Spesifikasi dan gambar2 teknik perlu dipelajari untuk mendapatkan suatu pengenalan lengkap dari berbagai kelengkapan bangunan beserta sistim yang terpasang dan bagaimana letak serta sistim pemasangannya.
4. Menetapkan suatu rencana prosedur awal mengenai pemeliharaan bangunan beserta seluruh sistimnya dengan memperhitungkan keadaan yang ada beserta seluruh resikonya.
5. Menetapkan instruksi kerja dari prosedur awal pemeliharaan perangkat sistim yang terkandung didalamnya.
6. Mengembangkan seluruh prosedur terpadu dan instruksi kerja kedalam suatu sistim global proses pemeliharaan bangunan beserta perangkat sistim yang ada.
7. Mengevaluasi seluruh prosedur2 yang ada beserta Instruksi kerja untuk membuat suatu evaluasi, apakah diperlukan adanya suatu perubahan ataupun penyesuaian dari berbagai prosedur2 terpadu yang telah dibuat.
8. Menetapkan prosedur serta instruksi kerja terpadu sebagai suatu sistim pemeliharaan bangunan yang ada, menjadi suatu ketetapan baku yang akan dijalankan pada proses pemeliharaan suatu bangunan beserta seluruh isinya. Hal ini untuk seluruh bangunan akan berbeda karena harus menyesuaikan kepada ciri-ciri peralatan yang ada serta aktifitas operasional sehari-harinya.
Mengenai pembicaraan : bagaimanakah langkah2 penetapan perencanaan prosedur beserta instruksi kerja dan siapakah yang dapat melakukan penetapan kebijakan tersebut? Maka perlu adanya suatu tim “Expert” yang memiliki berbagai kemampuan, karena bidang ini memerlukan suatu keterkaitan lintas disiplin keilmuan dari bidang-bidang: Teknik sipil, Teknik Mesin, Teknik Elektro, Arsitektur, Interior, Ekonomi & Manajemen.
Pelaksana dari pembuatan prosedur ini, haruslah terdiri dari orang yang benar2 mengenal bagaimana keadaan fisik, ataupun pengelolaan bangunan beserta seluruh sistim yang ada didalamnya. Ruang lingkup pelaksanaan pekerjaan ini adalah personal yang sangat teknis pada bidang2nya, jenis pengetahuan dan ketrampilan yang dikuasai oleh para “installer” sistim, paling tidak memiliki kemampuan:
1. Studi teknis keadaan fisik, lingkungan, operasional gedung dalam jangka waktu tertentu.
2. Kemampuan dasar yang harus dimiliki mengenai pengertahuan terhadap metode2 pemeliharaan bangunan beserta seluruh peralatan mekanik dan elektronik untuk berbagai tingkat kesulitan.
3. Pengetahuan dalam langkah2 dasar prosedural umum tentang pemeliharaan gedung dan sistimnya.
4. Ketrampilan dan kemampuan dasar dalam menganalisa berbagai tahapan kerja, dan merangkainya menjadi suatu prosedur.
5. Pengetahuan dasar dari pendidikan keteknikan formal karena tuntutan pengetahuan yang sangat teknis.
6. Memiliki data lengkap mengenai berbagai persyaratan dan ketentuan dalam melakukan perawatan dari berbagi komponen bangunan & isinya.
7. Memiliki hubungan yang baik dengan instansi terkait menyangkut kebijakan kepemerintahan dan pelaksanaan pemeliharaan gedung.
Daftar Pustaka
Sjafei Amri, ST., Dipl.E.Eng, “Teknologi Audit Forensik, Repair dan Retrofit untuk Rumah dan Gedung”, Yayasan Jonh Hi-tech Idetama, 2006

Inspeksi/Pengawasan Bangunan & Fasilitas Sekolah

Oleh : C.Richard Mandalora
Inspeksi/pengawasan adalah suatu pengertian dalam tindakan yang dilakukan untuk mengamati, meneliti, mengawasi dengan tujuan memberikan suatu kesimpulan terhadap keadaan yang diamati. Tindakan inspeksi dilakukan dengan sengaja dan dapat direncanakan secara rutin untuk mengambil kesimpulan dari apa yang diamati. Biasanya tindakan inspeksi dilanjutkan dengan tindakan yang dianggap perlu untuk dilakukan, menyangkut hasil penilaiannya.
Terdapat 3 daerah tindakan menyangkut respon dari inspeksi, yaitu:
1. Tindakan prevention (menjaga).
2. Tindakan Correction (memperbaiki).
3. Tindakan servicing (perawatan).
Dalam bangunan sekolah ketiga kegiatan itu dilakukan khususnya untuk memastikan bahwa proses pembelajaran berjalan dengan baik.
Faktor Penyebab Kerusakan Bangunan Sekolah
Terdapat siklus manfaat dalam suatu pengadaan bangunan umum, masa siklus tersebut yaitu: Masa Perencanaan, masa pembangunan, masa operasional dan masa pemeliharaan.
Pada tulisan ini akan lebih difokuskan kepada siklus pada masa pemeliharaan bangunan. Siklus masa pemeliharaan bangunan merupakan suatu masa dimana dilakukannya berbagai tindakan yang dilakukan untuk mengembalikan fungsi dari fasilitas yang ada. Proses pemeliharan dilakukan terhadap keadaan fisik bangunan dan berbagai komponen yang ada didalamnya. Pemeliharaan tersebut dilakukan dengan metode/prosedur tertentu yang dilakukan terhadap berbagai peralatan Mechanical, Elektrikal, landscape, dan fungsi dan keadaan bangunan.
Metode/prosedur yang ada harus disesuaikan dan dibuat berdasarkan keadaan, kebutuhan dan penanganan dari masing2 bagian fasilitas, ataupun perangkat M & E.Terdapat beberapa penyebab dari kerusakan bangunan, yaitu :
1. Faktor Usia Bangunan.
- Penurunan kualitas bangunan disebabkan oleh pengaruh gaya yang bekerja dari luar komponen bangunan ataupun dari dalam bangunan itu sendiri dalam hal ini pengguna bangunan. Pengaruh gaya yang bekerja secara jangka panjang akan mengakibatkan retakan ataupun getaran yang berlangsung lama bagi bangunan juga akan mengakibatkan keretakan.
- Faktor pengaruh gesekan ataupun tumbukan Kepada bangunan dalam jangka panjang juga akan memberikan pengaruh kelelahan (fatique) pada bangunan sehingga dapt menyebabkan keretakan, keruntuhan ataupun kerusakan pada komponen lainnya.
- Faktor pengaruh cuaca dalam jangka waktu yang cukup lama terhadap bangunan akan menyebabkan penurunan kualitas kekuatan dan keindahan bangunan.
2. Faktor Kondisi Tanah Dan Air Tanah.
- Pemilihan jenis dan struktur pondasi yang tidak tepat atas kondisi tanah yang ada serta kondisi air tanah yang ada, maka akan menyebabkan ketidak stabilan kondisi struktur bangunan, bisa terjadi penurunan bangunan ataupun keretakan struktur yang cukup fatal akibatnya.
- Permukaan air tanah yang tinggi dapat menyebabkan proses perembesan air kepada struktur pondasi sehingga menerunkan kekuatan struktur pondasi
3. Faktor Kondisi Angin
- Pengaruh gaya angin yang bekerja pada bangunan dapat menyebabkan efek puntir/torsi yang besarannya tergantung dari besar angin yang bertiup, hal ini terjadi terutama pada bangunan tinggi sehingga diperlukan perhitungan struktur yang lebih hati2 dan matang.
4. Faktor Gempa.
- Pengaruh gempa perlu diperhitungkan karena di Indonesia merupakan daerah resiko utama. Kerusakan yang terjadi dapat terjadi keretakan ataupun keruntuhan yang diakibatkan kondisi struktur bangunan yang kurang memadai.
5. Faktor Mutu Bahan.
- Pengaruh mutu bahan yang kurang baik pada saat pelaksanaan bangunan dapat menyebabkan keretakan, penyimpangan hasil pekerjaan struktur. Misalnya pasir kurang baik akan menyebabkan keretakan pada permukaan dinding ataupun plesteran bangunan, pada pengecoran beton akan menyebabkan mutu beton yang kropos/lembek.
6. Faktor Kesalahan Perencanaan dan Pembangunan.
- Perencanaan ataupun pembangunan yang tidak sesuai dengan ketentuan dan prosedur akan menyebabkan kerusakan jangka pendek ataupun jangka panjang suatu bangunan.
- Perencanaan yang kurang baik dapat juga mengakibatkan tidak optimalnya penggunaan bangunan nantinya, maka harus dilakukan dengan studi yang mendalam.
Inspeksi Bangunan
Perlu mengenali berbagai tipe kerusakan bangunan sehingga dapat memberikan solusi tercepat dan tepat mengenai tahap perbaikan dan pemulihannya. Inspeksi bangunan rutin dilakukan untuk mendeteksi lebih awal kerusakan2 ataupun penyimpangan2 penggunaan bangunan dan berbagai fasilitas didalamnya.
Inspeksi dilakukan oleh seorang Inspektor yang memiliki kemampuan dan pengetahuan dasar operasional gedung, ia akan membuat catatan mengenai kerusakan dan penyimpangan2 bangunan yang ada serta memberikan laporan untuk ditindak lanjuti.
Inspeksi pada bangunan dan fasilitasnya dapat digolongkan berdasarkan tipe kerusakan dan jenisnya kedalam beberapa bagian :
I. Berdasarkan Komponen Arsitektur.
II. Berdasarkan Komponen Struktur.
III. Berdasarkan Komponen Mekanikal dan Elektrikal.
IV. Berdasarkan komponen Prasarana dan Lingkungan.
V. Berdasarkan Komponen Keselamatan.
Inspeksi dilakukan berdasarkan lokasi yang terjadwal dan dalam waktu berkala secara tetap. Untuk memudahkannya dapat dibuat sebagai sebuah matrik hubungan didalam koordinat sumbu X & Y. Misalnya sumbu X=koordinat hasil pemantauan dan sumbu Y=adalah koordinat variabel lokasi inspeksi.
Berdasarkan Komponen Arsitektur.
1. Atap Berbahan Keramik/beton: Tipe kerusakan: Retak, pecah, lumutan, rembesan, berkarat, dan bocor.
2. Atap Berbahan Sirap: Bahan kayu, Tipe kerusakan: Belah, lumutan, busuk dan bocor.
3. Atap Lembaran: Bahan seng, alumunium, serat, logam ringan, Tipe kerusakan: Pecah, retak, karat, lapuk, patah.
4. Atap Polymer: Bahan polymer, Tipe kerusakan: Sobek, pecah, lapuk.
5. Bubungan Atap: Bahan Seng, asbes, lembar polycarbonat, genteng + Adukan, Tipe kerusakan: Pecah, patah, lapuk, sobek.
6. Talang dan Jurai: Bahan lembaran seng, lembar polymer, Tipe Kerusakan: Kerusakan yang terjadi adalah lapuk, berkaratnya bahan talang dan bocor, tersumbat, melimpahnya air hujan atau talang sobek.
7. Pipa Talang dan talang penampung: Bahan Seng lembaran, polycarbonat, PVC, Tipe kerusakan: lapuk, berkaratnya, bahan talang dan bocor, tersumbat, melimpahnya air hujan, sobeknya talang.
8. Penutup Lantai: Bahan keramik, Marmer, Granit, kayu papan/ polywood, floor hardener, Tipe kerusakan: Melendut, retak, lepas, terkelupas tidak merata, bocor.
9. Penutup Dinding: Bahan plesteran, keramik, marmer, granit, wall paper, kayu panel, aluminium panel, Tipe kerusakan: Retakan, terepas dan nosa kotor.
10. Penutup Plafond: Bahan organik, lembaran asbes, plywood, gypsum, alumunium, tripek, fiber board, Tipe kerusakan: Terlepas, melendut, bergelombang, busuk, hancur, berubah warna, luntur.
11. Pekerjaan Kusen: Bahan kayu, alumunium, baja, PVC,beton, Tipe kerusakan:busuk, lepas, karat.
12. Daun pintu dan jendela: Bahan kayu, alumunium, seng, baja, polymer, Tipe kerusakan: Penyusutan, Busuk, karat, lepas/macet engsel&kunci.
13. Pengecatan: Cat emulsi, arcrilic, minyak, Tipe keruskan: Retak rambut, mengelupas, berbelang-belang.
Berdasarkan Komponen Struktur.
1. Pondasi: Bahan beton, baja, paasngan batu, Tipe kerusakan: Penurunan, korosi.
2. Penurunan lantai: Penurunan yang merata, tidak merata, penggerusan local.
3. Tiang dan balok: keretakan akibat buckling ataupun lendutan diambang batas.
4. Rangka atap baja: Bahan Kayu, baja, Penurunan akibat beban berlebih dan lendutan pada gording dan kaso2.
5. Rangka langit2: Bahan Kayu, baja, Penurunan, Serangan serangga,patah, rangka lepas dari dinding.
6. Struktur Basement: Tipe kerusakan kebocoran, deformasi, uplift
Berdasarkan Komponen Mechanical & Electrical.
1. Instalasi Air minum dan kotor
2. Instalasi listrik
3. Instalasi penangkal petir.
4. Instalasi vertikal.
5. Instalasi Generator Set.
Berdasarkan komponen Prasarana dan Lingkungan
1. Penghijauan lahan longsor
2. Perbaikan longsoran.
3. Perbaikan elevasi bangunan setelah banjir.
4. Kondisi Jalan lingkungan dan Saluran.
Berdasarkan Komponen Keselamatan.
1. Komponen Kebakaran
2. Peralatan bantu keslamatan dalam sekolah
3. Komponen Banjir
4. Komponen Gempa bumi

3-K (Kenyamanan, Keamanan, Keindahan)

3-K : Kenyamanan, Keamanan, Keindahan Sekolah
I. Pendahuluan
Pengertian pendidikan/pembelajaran adalah proses pelatihan dan pengembangan pengetahuan, ketrampilan, pikiran dan karakter (Webster`s New World Dictionary, 1962). Pengertian sekolah pada umumnya adalah tempat dimana terjadinya proses pembelajaran yang dilakukan secara formal dan terprogram dalam kerangka perencanaan tujuan pencapaiannya bagi si pembelajar. Keberhasilan dari suatu proses pembelajaran banyak ditentukan oleh beberapa faktor yang mempengaruhi, menurut Hamzah Uno, terdapat beberapa faktor yang berpengaruh terhadap keberhasilan proses pembelajaran, yaitu :
1. Faktor ketepatan pemilihan metode pembelajaran.
2. Faktor internal manusia, yaitu guru dan muridnya sendiri.
3. Faktor lingkungan/tempat proses terjadi.
4. Faktor ketepatan pemilihan media sebagai penghantar pesan pengajaran.
Dalam topik ini akan banyak dibicarakan mengenai faktor lingkungan sebagai salah satu faktor yang menentukan keberhasilan proses pembelajaran.
Lingkungan Pembelajaran
Proses pembelajaran sangat membutuhkan lingkungan dalam kegiatannya, lingkungan itu sendiri dapat berada didalam ruangan ataupun ruang terbuka. Pada umumnya pembelajaran formal dilakukan didalam suatu ruangan yang dapat disebut sebagai kelas. Ruang dan fasilitas sarana lainnya sangat mempengaruhi keberhasilan kegiatan pembelajaran, untuk itu perhatian khusus perlu diberikan dengan serius.
Pengertian Lingkungan Pembelajaran dalam topik ini adalah ruangan dan fasilitas sarananya yaitu :
a. Ruang primer : Kelas tempat siswa berkegiatan.
b. Ruang pendukung : Laboratorium, perpustakaan.
c. Ruang pelengkap : Office, rapat, tamu, extrakurikurel.
d. Ruang service : Kantin, WC, gudang.
e. Sarana : Lapangan olahraga, tempat bermain, taman, parkir, security.
Kelengkapan sarana dan fasilitas sekolah secara nyata memberikan kontribusi kepada meningkatnya prestasi siswa, hal ini dapat diamati dari perkembangan berbagai sekolah favorit yang ada di Jakarta. Istilah sekolah favorit tumbuh untuk memberikan gambaran bahwa sekolah tersebut sangat diminati oleh calon siswa, karena dinilai memiliki prestasi yang baik serta sarana dan fasilitas yang lengkap.
Konsep Pengembangan Sekolah
Pertumbuhan dunia sekolah pada dasawarsa ini sangat pesat, dengan banyak ditawarkannya berbagai kurukulum pengembangan melalui berbagai sekolah berkualitas. Sejalan dengan hal tersebut berbagai upaya dilakukan oleh pihak sekolah untuk meningkatkan pelayanan terbaik yang diberikan untuk mendapatkan respon yang baik dari para murid dan orang tua. Dalam suatu proses pengembangan sekolah yang diadopsi dari nilai batas lingkup marketing secara umum maka dapat digambarkan lingkup sebagai berikut:
Customer Need : Adalah suatu kebutuhan tertentu dari suatu pelanggan dalam hal ini calon siswa, dimana akan cenderung mencari situasi dan tempat yang dinilai baik dan tepat untuk memenuhi keinginannya yaitu melakukan proses pembelajaran.
Research & Development : Adalah suatu proses atau langkah2 pengumpulan informasi yang diambil suatu lembaga pendidikan untuk mendapatkan/mencari/menyimpulkan arah pengembangan sekolah tersebut untuk menjadi suatu lembaga yang lebih baik.
Method : Adalah bagaimana rencana cara pelaksanaan operasional yang akan dilakukan oleh pihak Sekolah.
Processing : Adalah bagaimana pihak Sekolah menjalankan proses pengajaran kesehariannya dalam mendidik siswa.
Customer Value : Adalah bagaimana hasil yang dicapat siswa dalam proses pembelajaran tersebut, hal ini bisa diukur bagagaimana kualitas siswa seusai paket pengajaran berakhir.
Dalam pemikiran lainnya untuk pengembangan sekolah/pembelajaran, suatu proses pembelajaran memiliki beberapa variabel sebagai penentu utama keberhasilannya, (Reigeluth dan Meriil, 1978) yaitu :
1. Variabel2 terhadap kondisi pembelajaran.
2. Variabel2 terhadap metode pembelajaran.
3. Variabel2 terhadap hasil analisis pembelajaran.
Pengertian lingkungan pembelajaran pada bahasan diatas merupakan salah satu variabel yang berkembang dari variabel2 kondisi pembelajaran. Lingkungan pembelajaran dianggap cukup berpengaruh dan diperhatikan dengan baik untuk mendukung suksesnya pembelajaran.
5 issue yang berkembang di Amerika mengenai pemeliharaan gedung pada umumnya.
1. Menjaga Keselamatan, merupakan faktor terbesar (35%). Faktor inilah yang paling banyak dituntut oleh masyarakat sebagai pengguna gedung itu sendiri.
2. Memperpanjang usia bangunan, faktor kedua terbesar (25%). Pemeliharaan gedung dan seluruh fasilitas yang ada didalamnya diharapkan dilakukan dengan baik sebagai optimalisasi penggunaan dan usia pakainya.
3. Kenyamanan Pengguna, faktor ketiga terbesar (20%). Dengan pemeliharaan gedung pemakai gedung dapat merasakan kenyamanan dan optimalisasi pemakaian fasilitas yang ada.
4. Differensiasi (12%), adalah mengoptimalisasi pemeliharaan gedung sebagai salah satu nilai jual suatu institusi.
5. Estetika/keindahan (8%), adalah pemeliharaan gedung sebagai suatu sarana membangun nilai estetika/keindahan lingkungan gedung sehingga menjadi daya tarik tersendiri bagi pemakai.
Dari beberapa wacana diatas maka marilah kita mendefinisikan tersendiri mengenai konsep 3-K : Kenyamanan, Keamanan, Keindahan di Sekolah sebagai suatu sarana mensukseskan program pembelajaran siswa.
3-K : Kenyamanan, Keamanan, Keindahan di Sekolah
Kenyamanan :
Merupakan suatu penilaian dari perasaan yang timbul akibat rangsangan dari lingkungan yang memberikan keadaan yang stabil, cukup baik, puas, dan pengalaman repetitif untuk kelanjutannya. Untuk suatu lingkungan sekolah arti kenyamanan dapat berupa :
1. Kelengkapan dari penyediaan fasilitas sekolah adalah unsur utama, sehingga para pengguna memiliki sarana yang lengkap sebagai alat bantu yang cukup baik dalam mendukung pelaksanaan program pembelajaran.
2. Perawatan yang baik dari seluruh fasilitas yang ada, dengan demikian selalu dalam keadaan baik dan seluruh fungsi penggunaannya dapat bermanfaat hingga optimal dan pada akhirnya memberikan kepuasan serta bagi pengguna.
3. Product Knowledge serta bantuan dan pelayanan dari seluruh karyawan/guru bagi orangtua-murid untuk informasi serta ketidakjelasan lainnya dengan ramah, sopan dan kecepatan informasi yang diberikan.
4. Suasana lingkungan disekitar sekolah yang yang hijau, teduh dan asri memberikan kesejukan, keteduhan serta relaksasi dalam arti tersendiri bagi pengguna lingkungan sekolah. Disamping fungsi lain sebagai pelindung dari bising, debu yang berterbangan dan filter dari sinar matahari.
5. Kebersihan dari seluruh fasilitas haruslah terjaga dengan baik, karena hal ini akan memberikan peran menciptakan suatu budaya pembiasaan bagi siswa serta memberikan kesan penghargaan tersendiri bagi seluruh pengguna dengan perduli terhadap penciptaan lingkungan yang sehat.
Keamanan :
Merupakan suatu penilaian yang diberikan oleh para pengguna fasilitas sekolah kepada lingkungan sarana disekitar sekolah, dimana seluruh pengguna fasilitas menggunakan percaya akan keselamatannya. Dalam lingkungan sekolah hal tersebut dapat berarti:
1. Memberikan rasa aman bagi para pengguna melalui prosedur2 persiapan/menghadapi kecelakaan kerja, bencana alam ataupun gangguan luar.
2. Kesiapan personal dengan adanya kelengkapan fasilitas bantu dalam menghadapi kebakaran, atau gangguan lain.
3. Pemakaian instalasi listrik dan peralatannya, peralatan bantu lain seperti pompa, Air Conditioner, dan lainnya perlu diadakan perawatan dan pemeliharaan rutin agar berfungsi dengan baik.
Keindahan :
Merupakan suatu penilaian/kepuasan dari pemakai mengenai keseluruhan bangunan dan sarana lingkungan sekolah, hal ini terkait erat dengan estetika , dalam lingkungan sekolah misalnya :
1. Model dan thema bangunan yang baik dan sesuai dengan visi dan misi dari proses pengajaran merupakan suatu kesatuan yang harus searah.
2. Pemilihan warna bangunan harus diperhatikan kepada keseluruhan fasilitas yang ada.
3. Proporsi bangunan dan fasilitas peralatan yang ada harus diperhatikan, hal ini untuk ditujukan untuk keselarasan bentuk dan ukuran.
4. Kualitas hasil kerja dari pembangunan/pengembangan fisik fasilitas harus diperhatikan.
5. Kebersihan keseluruhan lingkungan sekolah.
3-K di sekolah pada saat ini merupakan suatu wacana dan paradigma yang sudah seharusnya terbentuk, dengan mengikuti pertumbuhan masa sekarang yang menuntut kebutuhan yang lebih tinggi dalam proses pembelajaran di sekolah khususnya.

10/25/2008

Lingkungan Sekolah


Estetika lingkungan Sekolah

Pendahuluan.
Istilah estetika terkait erat dengan kaidah bentuk fisik yang baik, layak dan memberikan manfaat bagi pihak yang mengamati. Dalam ilmu filsasat Estetika diartikan sebagai sesuatu yang memperhatikan atau berhubungan dengan gejala yang indah dalam alam ataupun seni. Estetika berasal dari kata Yunani “Aisthetika” yang berarti hal hal yang dapat diserap oleh panca indra.
Suatu Estetika dalam lingkungan adalah keadaan dimana suatu bentuk penilaian yang diberikan kepada lingkungan berkaitan dengan kebersihan, keteraturan, keindahan, ataupun keasrian. Kondisi lingkungan dengan keadaan estetika yang baik mampu memberikan suatu dorongan kehendak positif dari pemakai ataupun orang yang berada dilingkungan tersebut. Unsur pembentukan estetika Lingkungan dapat dikelompokkan kedalam bagian2:
• Pertamanan Lingkungan.
• Kebersihan lingkungan.
• Pengaturan tataletak lingkungan/keasrian lingkungan.
Dalam kaitan bahasan di Topik ini, pembentukan Estetika dilingkup sekolah memiliki komponen2 yang sama, oleh karena itu konsep ini dapat diadopsi kedalam istilah pembentukan Estetika Lingkungan di Sekolah. Bagaimana peran estetika lingkungan sekolah terhadap proses pembelajaran? Pada topik yang lalu kesatu terdapat beberapa pendapat yang mengatakan kuatnya pengaruh lingkungan pada proses pembelajaran. Menurut Dharsono, Estetika, 2007 : Penikmat berbeda dengan pengamat karena dimensi penikmat adalah dimensi psikologis, dan logis, sedangka pengamat memiliki dimensi logis. Para pengguna lingkungan sekolah adalah bertindak sebagai penikmat, sehingga kondisi2 yang terjadi dilingkungan tersebut akan sangat berdampak kepada pengunanya. Ini adalah suatu nilai yang sangat jelas yang perlu dijawab dalam pengimplementasiannya secara kongkrit, yaitu :
1.Memberikan/menanamkan suatu pandangan (image) kepada pihak yang menilai dan menikmati lingkungan tersebut dalam konteks pemunculannya sebagai suatu cultural/budaya institusi.
2.Memberikan dampak secara psikologis terhadap pengguna lingkungan tersebut, dengan timbulnya perasaan ketenangan, keasrian, kesejukan, keteraturan.
3.Menanamkan suatu nilai keperdulian terhadap estetika lingkungan bagi seluruh pengguna lingkungan sekolah : guru, murid, Orang tua murid, pihak2 lain yang berhubungan.
4.Ikut memberikan dan membentuk suatu bahan ajaran sekunder, dimana kondisi ini dapat diberlakukan sebagai suatu model lingkungan terbatas bagi siswa maupun pengajar.

I.Pertamanan Lingkungan
Penghijauan dilingkungan sekolah akan meningkatkan kualitas aktifitas dilingkungan sekolah, dan dapat memiliki fungsi Estetika :
1.Penciptaan ruang untuk lingkungan hidup (ekologis). Menciptakan ruang hidup untuk tanaman bertumbuh beraneka ragam.
2.Penciptaan suatu keindahan alam dengan tersedianya unsur2 hijau dari berbagai jenis tanaman.
Taman merupakan hasil karya manusia dalam melakukan perubahan dan penataan ulang bentuk lingkungan untuk menciptakan suasana dengan keyakinannya, yaitu nyaman, aman, indah. Membuat taman juga mengembangkan kepentingan mahluk lain seperti: Manusia, tanaman, satwa serangga ataupun hewan lainnya yang satu sama lainnya berinteraksi dalam suatu ekosistim taman.

Selain fungsi estetika juga diharapkan fungsi lain mengenai lingkungan yang semaksimal mungkin, misalnya :
1.Sebagai paru2 lingkungan yang mengambil CO2 dan mengeluarkan Oksigen menjadikan suasana segar & sehat.
2.Sebagai penahan partikel2 debu yang ada diudara sehingga menjadi lebih bersih dan sehat.
3.Pertamanan juga membantu proses peresapan air ketanah, sehingga menambah jumlah volume air tanah.
4.Pada daerah 2 yang memiliki kemiringan maka lahan pertamanan mampu menahan erosi dari permukaan tanah.
5.Susunan pepohonan mampu menahan angin yang bertiup kencang, sehingga mengurangi bahaya yang mungkin terjadi.
6.Meredam bunyi yang bising, sehingga menjadikan lebih tenang.

Elemen Taman
Elemen taman disebut juga unsur taman adalah segala sesuatu yang berhubungan dengan taman. Elemen ini secara ataupun tidak mempengaruhi penampilan dan kualitas taman rumah. Menurut Bambang Sulistyantara,1992, dimana terdapat 2 jenis elemen taman :
1.Elemen Lunak : Tanaman dan binatang.
2.Elemen Keras: Tanah, bebatuan, bangunan taman,perkerasan, jalan setapak, pagar halaman.
3.Elemen Mayor: Komponen bentuk yang tidak dapat diubah, contoh gunung, sungai, danau, komponen topografi lainnya.
4.Elemen Minor: Komponen bentuk yang dapat diubah, contoh bukit, tanaman, rawa dan elemen buatan manusia lainnya.
Warna, memiliki peran penting dalam membentuk suatu taman, dengan pemlihan tanaman ataupun unsur keras/lunak yang memiliki harmoni sesuai akan memberikan sutu keindahan bentuk lengkap secara proporsinya.
Bentuk Tanaman, pemilihannya dianjurkan memperhatikan aspek proporsi ataupun motif/gaya/tema utama dari taman itu sendiri.
Terdapat beberapa aspek dalam mendisain suatu taman, yaitu:
1.Aspek fisik, segala sesuatu yang berhubungan dengan bentuk fisik taman.
2.Ukuran Lahan taman, Perlu memperhatikan ketersediaan ruang dan lahan agar tema desain juga disesuaikan.
3.Drainase, diperlukan untuk pembuangan air jika terjadi kondisi air yang tergenang.
4.Topografi, menggambarkan keadaan permukaan lahan halaman.
5.Tanah, Perlu diperhatikan jenis tanah yang ada, berpasir, liat, atau gembur.
6.Tanaman, pemilihan unsur tanaman rumput, semak, atau peneduh.
7.Iklim/geografi, perlu informasi iklim agar pemilihan tanaman sesuai dengan keadaan iklim.
8.Pemandangan: perlu diperhatikan sudut pandang yang baik dari pemilihan letak taman tersebut.
9.Aspek sosial, kesukaan keluarga akan jenis tertentu, atau kebutuhan masing2.
10.Aspek ekonomi, apakah ketersediaan dana yang cukup dalam mewujudkannya.

II. Kebersihan Lingkungan
Kebersihan lingkungan merupakan faktor yang sangat berperan dalam pelaksanaan proses belajar, untuk itu pelaksanaannya perlu adanya suatu sistim mekanisme inspeksi untuk meyakinkan bahwa kondisi yang ada cukup baik berdasarkan standard yang diberlakukan.
Upaya pelaksanaannya dapat digunakan suatu laporan hasil inspeksi, berupa catatan rekaman kejadian harian, mingguan disuatu tempat terinspeksi. Contoh matriks form yang ada:
No Kode Tempat Inspeksi Item Pengawasan Status Keterangan
OK Not-Ok N/A
1 O1/1 Kamar Mandi Lantai

Tabel matriks diatas misalnya adalah 01=untuk lantai 1, 1=untuk kode nomor ruang, kama rmandi, bagian lantai, hasil penilaian=ok,tidak ok, keterangan=catatan kondisi.
Hasil kegiatan inspeksi ini menjadi suatu acauan untuk melakukan tindakan berikutnya yaitu permintaan pembersihan kembali atau sudah cukup.

Kebersihan dalam lingkungan sekolah dapat meliputi:
1. Kebersihan saluran & jalan lingkungan luar.
2. Kebersihan halama/lapangan bermain, olahraga.
3. Kebersihan kelas2 dan ruang laboratorium.
4. Kebersihan kantor2:TU, kepala sekolah, dll.
5. Kebersihan kamar mandi, ruang cuci.
6. Kebersihan kantin, koperasi.
Lingkup Inspeksi Kebersihan secara umum, misalnya adalah:
1. Keadaan bebas dari sampah yang berserakan.
2. Keadaan bebas dari kotoran2 dihalaman, lantai, dinding.
3. Keadaan permukaan kaca yang bersih.
4. Keadaan keramik Kamar mandi yang tidak ada noda dan tidak berbau.
5. Keadaan kelas&ruang2 yang bebas debu, bebas noda, bebas bau.
III. Pengaturan tataletak lingkungan/keasrian lingkungan.
Yang dimaksud pengaturan tata-letak lingkungan : adalah suatu tindakan menyusun atau menata suatu elemen lingkungan menjadi suatu kesatuan bentuk yang ada. Susunan bentuk

Haruslah sesuai dengan komposisi serta proporsi yang ada dari bentuk lain yang dilingkungan tersebut.
Misalnya kita meletakan suatu tanaman dengan ukuran dan bentuk tertentu disekitar tanaman lainnya, maka harus diperhatikan:

Antara tumbuhan 1 & tumbuhan 2 terlihat tidaklah proporsional dari segi bentuk dan ukuran, tidak ada kesesuaian perlu adanya kesesuaian bentuk.


( Oleh : Richard Mandalora)

Serah Terima Rumah

Cek Dulu, Timbang Sesal Kemudian
Written by C.Richard Mandalora.
Tuesday, 23 September 2008
Sebuah artikel di Kompas.Com yang cukup menarik dan komprehesif, dapat dijadikan acuan dalam proses serah terima rumah, ruko, apartement maupun kantor....

Cek Dulu, Baru Serah-Terima (1) dan (2)
http://www.kompas.com/read/xml/2008/09/18/15200043/cek.dulu.baru.serah-terima.1

Setelah melakukan proses serah terima, seringkali konsumen mendapati ada beberapa bagian rumah yang rusak. Agar Anda terhindar dari hal-hal tersebut, ada beberapa pengecekan yang perlu Anda lakukan sebelum melangsungkan proses serah terima.

Eti karyawati sebuah kantor di Jakarta—setahun yang lalu membeli rumah di perumahan yang berlokasi di Bekasi. Karena sepengetahuannya pengembang perumahan ini mempunyai skala bisnis yang cukup besar, ia pun membelinya. Setelah proses serah-terima dari pengembang berlangsung, beberapa waktu kemudian Eti berencana melakukan renovasi pada beberapa bagian rumah yang dibelinya. Namun, alangkah terkejutnya Eti melihat kondisi rumahnya. Pada saat akan melakukan renovasi tersebut, ia menemukan beberapa kerusakan pada kualitas bangunan. Padahal sejak serah-terima hingga saat ini, rumah tersebut belum sempat ditinggali.

Beberapa kerusakan yang ditemui antara lain dinding yang retak dan plafon gipsum yang berlumut—yang diakibatkan adanya luapan air dari saluran pembuangan air hujan dari genteng. Selain itu juga Eti mengalami kesulitan menemukan jalur instalasi air bersih dan air kotor, sehingga ia sulit menyambung atau menambah instalasi pipa yang baru.

Bagaimana hal seperti ini bisa terjadi? Padahal pengembang perumahan ini memiliki reputasi yang tidak mengecewakan dengan kualitas bangunan yang cukup baik. Sudah tentu dengan beberapa kerusakan ini Eti akan memperbaikinya. Namun ia harus menyediakan waktu yang tidak pendek dan dana yang tidak sedikit.

Kasus seperti ini mungkin dapat terjadi pada setiap orang termasuk Anda. Sebagai konsumen, dapatkah kita meminimalkan terjadinya kasus seperti ini? Jika ya, bagaimana caranya? Apakah sesulit yang dibayangkan? Jawabannya adalah bisa dan tidak terlalu sulit. Dengan pengorbanan sedikit waktu dan tenaga pada saat mendekati serah-terima rumah impian, Anda dapat terhindar dari kasus seperti ini.

Proses Serah-Terima

Dalam sebuah bisnis properti, proses serah-terima dari pihak pengembang ke konsumen merupakan salah satu tahap dari serangkaian proses yang harus dilakukan. Langkah ini merupakan pengalihan hak kepemilikan bangunan atau kavling dari pihak pengembang kepada pihak konsumen. Secara hukum, kedua belah pihak setuju untuk menerima tanpa adanya unsur pemaksaan.

Mengacu dari definisi itu, kita sebagai konsumen sebenarnya memiliki hak untuk meneliti kembali kondisi terakhir bangunan yang diserahkan pihak pengembang. Sebelum proses serah-terima berlangsung, hendaknya Anda meminta waktu kepada pengembang untuk mengecek kondisi akhir bangunan dengan metode check list.
Beberapa pengembang besar yang cukup mempunyai reputasi, sudah melakukan prosedur ini. Mereka biasanya sudah memiliki standar prosedur produksi, mulai dari tahap produksi bagian hulu (tahap perencanaan awal dan tahap pengadaan sub-kontraktor) sampai tahap bagian hilir (tahap pelaksanaan, tahap pengawasan, dan tahap pemeliharaan). Nah bagaimana dengan pengembang perumahan Anda?
Apabila semua prosedur sudah dilakukan sesuai standar, berarti Anda telah membeli rumah dari pengembang yang baik. Namun, hal ini belum menjamin tidak terjadinya kasus seperti yang dialami Eti. Sebab, banyak dari konsumen melakukan pemeriksaan secara selayang pandang saja, tidak secara teliti dan hati-hati. Karena itu, ada atau tidak prosedur pengecekan akhir dari pihak pengembang, hendaknya Anda tetap harus berinisiatif untuk melakukan pengecekan sendiri. Prosedur pengecekan ini merupakan kesempatan yang seharusnya diberikan kepada konsumen untuk menilai hasil akhir dari produk yang ditawarkan pengembang. Apa saja yang harus dilakukan ketika Anda melakukan pengecekan pada bangunan? Bagaimana langkah-langkahnya?

Ada 3 hal pokok yang harus dilakukan pada saat pengecekan.
1. Pemeriksaan kualitas fisik bangunan secara umum
Periksalah dengan baik dan teliti seluruh bangunan rumah Anda. Biasanya bagian yang kurang rapi atau mengalami kerusakan—mulai dari bagian pagar luar, kamar tidur, kamar mandi, atau dapur—dapat dilihat secara visual. Agar tidak lupa, catatlah kerusakan yang Anda temui pada formulir yang telah disediakan pengembang. Atau jika pengembang tidak menyediakannya, catatlah di kertas sendiri. Tapi perlu diingat, bila menggunakan kertas sendiri, Anda harus meminta tanda tangan atau persetujuan dari pihak pengembang sebagai ajuan bukti permintaan perbaikan.

Beberapa pekerjaan yang perlu Anda lihat secara visual di antaranya adalah sebagai berikut.
No.
Kualitas fisik bangunan
Pengecekan

1. Pagar depan
- Kerapian bentuk dinding
- Kekuatan dan kerapian besi
- Kondisi pengecatan pagar
2. Halaman depan
- Kerapian carport
- Kondisi halaman depan
3. Tampak depan bangunan
- Kerapian genteng depan
- Kerapian papan lisplank
- Kerapian dinding depan
- Finishing pintu dan jendela
- Asesoris pintu dan jendela
- Kerapian keramik teras
4. Ruang tamu, makan, dan keluarga
- Kerapian sudut dinding
- Kerapian cat dinding
- Kondisi penutup plafon
- Kerapian lis plafon
- Pengecatan dinding dan plafon
- Kerapian keramik lantai
- Cacat keramik lantai
- Finishing pintu dan kusen
5. Ruang tidur
- Kerapian dinding rata
- Kerapian sudut dinding
- Kerapian cat dinding
- Kondisi penutup plafon
- Kerapian lis plafon
- Pengecatan dinding dan plafon
- Kerapian keramik lantai
- Cacat keramik lantai
- Finishingpintu dan kusen
- Finishingjendela dan daun
- Asesoris pintu dan jendela
6. Kamar mandi
- Keramik lantai dan dinding
- Kerapian bak mandi
- Pemasangan drain floor
- Kondisi penutup plafon
- Kerapian lis plafon
- Finishingkusen dan pintu
- Asesoris pintu dan jendela
7. Dapur dan teras belakang
- Keramik lantai dan dinding
- Kerapian bak cuci
- Pemasangan drain
- Kondisi penutup plafon
- Kerapian lis plafon
- Kerapian sudut dinding
- Kerapian cat dinding
- Finishing pintu dan kusen
- Finishing jendela dan daun
- Asesories pintu dan jendela
8. Tangga (jika ada)
- Kerapian keramik
- Pemasangan railing
- Cat
- Finishing bagian bawah tangga
2. Kelengkapan gambar instalasi
kelengkapan gambar instalasi listrik, air bersih, dan air kotor. Walaupun sepele, hal ini penting. Gambar tersebut akan berguna pada saat anda akan merenovasi rumah, misalnya menambah ruangan. Kesulitan renovasi banyak terjadi akibat tidak adanya gambar jalur instalasi, sehingga proses mencari jalur tersebut dilakukan dengan cara trial and error, misalnya dengan cara mengelupas dan menghancurkan dinding (bobok). Cara ini hanya akan menambah bagian rumah yang mengalami kerusakan sehingga perlu dilakukan perbaikan jika jalur pipa tidak juga ditemukan.
Beberapa gambar yang dapat Anda minta ke pengembang antara lain sebagai berikut.
Instalasi Gambar:
1.Instalasi listrik Gambar instalasi terpasang
2. Instalasi air bersih
Gambar teknis pemipaan :
3. Instalasi air buangan
- Gambar saluran air hujan
- Gambar saluran air cuci
3. Pengetesan instalasi
Walaupun masih terasa asing, pengetesan instalasi perlu dilakukan. Jangan sampai ketika Anda menempati rumah baru, talang air hujan mengalami kebocoran. Mintalah hasil tes instalasi kepada pihak pengembang seperti jaringan air bersih, air kotor, talang air, perendaman dak air talang, atau pengetesan instalasi listrik. Jika pihak pengembang belum melakukannya, maka Anda harus memintanya untuk melakukan pengetesan ini. Untuk saluran air hujan dan air kotor, pengetesan dilakukan dengan cara menuangkan air pada lubang drain. Setelah itu amati pada ujung saluran pembuangan. Langkah ini untuk memastikan apakah air mengalir dengan baik atau tidak. Untuk saluran air bersih dapat dilakukan dengan cara memberikan tekanan tertentu dalam waktu yang ditentukan dengan memakai alat tespump.
Beberapa pengetesan yang dapat Anda minta ke pengembang antara lain sebagai berikut.
Instalasi Pengujian:
1. Aliran listrik
- Fungsi saklar (nyala lampu)
- Fungsi stop kontak
2. Instalasi listrik
Pernyataan kelayakan dari lampiran hasil tesmerger (tes kelayakan grup pada panel)
3. Instalasi air bersih
Pernyataan kelayakan dari lampiran hasil tes tekanan (tes kelayakan instalasi pemipaan, yang dilakukan oleh pihak pengembang dan kontraktor yang membangun perumahan tersebut)
4. Instalasi air kotor
Pernyataan kelayakan dari lampiran hasil tes aliran (tes kelancaran pemipaan, yang dilakukan oleh pihak pengembang dan kontraktor yang membangun perumahan tersebut)
5. Kebocoran dak beton talang/kamar mandi
Hasil dari tes rendam dak kamar mandi - - Hasil dari tes perendaman dak talang (jika ada )
selain tiga hal di tas, Anda juga harus menanyakan beberapa jaminan yang diberikan oleh pengembang mengenai rumah yang akan diserahkan olehnya. Umumnya pengembang akan memberikan jaminan dengan jangka waktu tertentu. Jaminan yang dapat Anda tanyakan kepada pengembang antara lain sebagai berikut.
1. Jaminan pemeliharaan
Tanyakan ke pihak pengembang, berapa lama jaminan pemeliharaan bangunan yang diberikan serta sampai di mana batasan fisik yang dijaminkan. Hal ini harus jelas dan harus dituangkan secara tertulis di dalam klausul Perjanjian Pengikatan Jual Beli (PPJB). Jika terjadi kerusakan pada masa pemeliharan, maka Anda dapat dengan segera mengajukan perbaikan kepada pihak pengembang. Batasan bagian yang dijaminkan juga penting untuk menghindari saling menyalahkan antara Anda sebagai pembeli dengan pengembang.
2. Jaminan pekerjaan
Khususnya untuk perumahan yang lokasinya rawan akibat serangan rayap. Mintalah pada pihak pengembang jaminan dari pekerjaan antirayap di rumah Anda. Anda perlu mengetahui berapa lama garansi yang diberikan. Serangan rayap pada akhirnya akan sangat merugikan kondisi rumah Anda dan bahkan dapat menyambar ke barang-barang interior di rumah yang terbuat dari kayu atau rotan.
Setelah Anda benar-benar yakin bahwa semua hal di atas telah dijalankan dengan baik, maka Anda sudah memiliki jaminan yang dapat mengurangi resiko. Pada akhirnya proses serah-terima rumah dapat dilakukan sehingga Anda dapat tinggal di rumah Anda sendiri dengan nyaman.

(Richard Mandalora, ST., MT.)